JawaPos.com – Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani bertemu dengan delegasi Israel di Yordania dalam pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan kedua negara.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Senin (24/8), Pertemuan tersebut melibatkan delegasi tingkat tinggi Israel yang dipimpin Kepala Mossad Roman Gofman dan berlangsung setelah Israel melancarkan serangan terhadap pangkalan udara Suriah di dekat perbatasan Turki.
Pembicaraan difokuskan pada pembentukan mekanisme untuk menghentikan serangan, penangkapan, dan operasi penargetan Israel serta menghidupkan kembali negosiasi mengenai perjanjian keamanan jangka panjang.
Suriah dan Israel juga membahas upaya mencegah ketegangan antara Israel dan Turki meluas ke wilayah Suriah.
Pemerintah Suriah menegaskan bahwa negaranya merupakan negara berdaulat yang berhak membangun kembali militernya serta menentukan aliansi dan kemitraan berdasarkan kepentingan nasional.
Damaskus juga menuntut penarikan pasukan Israel ke posisi sebelum jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad dan pemulihan perjanjian pemisahan diri 1974, termasuk menegaskan kembali klaim kedaulatannya atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Sementara itu, Israel menetapkan sejumlah persyaratan dalam pembicaraan, termasuk pencegahan aktivitas militer Turki di Suriah, pembatasan kehadiran militer di wilayah Dataran Tinggi Golan bagian Suriah, serta jaminan keamanan bagi komunitas Druze.
Pembicaraan sebelumnya yang dimediasi Amerika Serikat sempat menghasilkan kesepakatan mengenai mekanisme berbagi intelijen dan meredakan ketegangan, tetapi terhenti setelah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari.
Meskipun Suriah menyatakan masih membuka jalur diplomasi, sejumlah analis menilai perundingan terbaru belum tentu meredakan ketegangan karena adanya perbedaan kepentingan dan meningkatnya persaingan antara Israel dan Turki di wilayah Suriah.
***