← Beranda
AS Ancam Tiongkok dengan Sanksi jika Tetap Berbisnis dengan Iran
Dhimas GinanjarSelasa, 25 Agustus 2026 | 16.24 WIB
Menteri Keuangan AS Scott Bessent. (Kyodo)

JawaPos.com - Amerika Serikat memperingatkan Tiongkok dan negara-negara lain bahwa mereka menghadapi risiko lebih besar terkena sanksi sekunder jika tetap melakukan bisnis dengan Iran.

Ancaman tersebut disampaikan ketika Washington meluncurkan kampanye baru untuk memutus sumber-sumber ekonomi penting yang menopang Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kampanye yang diberi nama Operation Economic Outcast itu akan menyasar lima sektor utama, yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.

“Mereka yang berdiri bersama Amerika Serikat akan mendapatkan manfaat dari kemitraan kami. Mereka yang mengikat diri dengan rezim Iran harus siap berbagi dalam isolasi rezim yang semakin melemah,” kata Bessent dalam konferensi pers.

“Tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan sanksi AS,” lanjutnya.

Bessent menegaskan bahwa entitas maupun negara mana pun dapat menjadi sasaran operasi tersebut, termasuk Tiongkok yang merupakan salah satu mitra dagang penting Iran.

“Setiap negara memiliki batas waktu yang ditentukan untuk menghentikan aktivitas yang telah kami identifikasi,” ujarnya.

“Jika mereka tidak mengambil tindakan, kami akan melakukannya secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan,” tambah Bessent.

Ancaman Washington muncul ketika Presiden Donald Trump masih berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir enam bulan.

Langkah tersebut juga dilakukan sekitar satu bulan sebelum Trump berencana menjamu Presiden Tiongkok Xi Jinping di Gedung Putih.

Bessent menggambarkan kebijakan tersebut sebagai pilihan bagi para pemimpin dunia antara kemakmuran dan isolasi, perdamaian dan teror, serta Amerika dan Iran.

Namun, pemerintahan Trump belum mengungkapkan secara rinci bagaimana kampanye terbaru tersebut akan dijalankan.

“Kami tidak akan menyebutkan nama,” kata Bessent ketika ditanya mengenai target spesifik.

Sanksi Baru Sasar Teknologi dan Minyak Iran

Bessent mengatakan sanksi terbaru akan menargetkan berbagai pihak yang membantu Iran mempertahankan sumber pendapatannya.

Ia memberikan contoh bahwa entitas mana pun yang memfasilitasi pencucian uang untuk Iran akan dikeluarkan dari sistem dolar AS.

Washington juga memutuskan menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di berbagai negara.

Menurut Bessent, mereka dituding membantu pemerintah Iran memperoleh teknologi nuklir dan rudal secara ilegal, menjalankan operasi siber, serta menghasilkan pendapatan dari minyak.

Belum jelas sejauh mana rencana baru tersebut akan berbeda dari berbagai upaya AS sebelumnya untuk menekan perekonomian Iran.

Iran sendiri menyatakan siap menghadapi ancaman tersebut.

Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan negaranya “sepenuhnya siap” menghadapi sanksi AS.

Media resmi Iran mengutip pernyataannya yang menyebut Washington tidak akan mampu memutus jalur keuangan yang menopang perekonomian Teheran.

Seperti dilansir Kyodo, Selasa (25/8), ancaman sanksi sekunder tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang masih memiliki hubungan ekonomi dengan Iran, terutama Tiongkok sebagai salah satu mitra dagang utama Teheran.

EDITOR: Dhimas Ginanjar