JawaPos.com - Iran menghadapi tekanan ekonomi baru dari Amerika Serikat, tetapi Teheran menyiapkan ancaman balasan yang bisa berdampak jauh lebih luas.
Iran memperingatkan aliran minyak dari Teluk Persia dan Selat Hormuz dapat dihentikan jika negara-negara kawasan ikut dalam kampanye sanksi Washington.
Ancaman itu disampaikan Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei, setelah AS berencana menjatuhkan 'secondary sanctions' kepada negara atau entitas yang masih berdagang dengan Iran.
"Jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan Amerika dalam perang ekonomi mereka, tidak ada setetes minyak pun yang akan meninggalkan Teluk Persia dan Selat Hormuz," kata Rezaei mengutip Guardian.
Baca Juga: Iran Temukan Cadangan Gas Besar di Tengah Perang dan Ancaman Sanksi AS
Ia juga memperingatkan Iran dapat menargetkan jalur ekspor minyak lain dari kawasan Teluk.
Ekspor Minyak Iran Nyaris Berhenti
Ancaman tersebut muncul ketika ekspor minyak Iran sendiri sudah mengalami tekanan berat.
Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengakui ekspor minyak mentah negaranya telah “virtually stopped” akibat blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kondisi itu memperburuk tekanan terhadap ekonomi Iran. Nilai tukar rial terus melemah, sementara berkurangnya pemasukan valuta asing meningkatkan risiko inflasi.
Washington menilai tekanan tersebut dapat membawa ekonomi Iran kembali ke ambang keruntuhan.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Melemah Senin Pagi, Investor Aksi Ambil Untung Jelang Sanksi AS ke Iran
Namun, Teheran telah menghadapi berbagai bentuk sanksi AS selama lebih dari dua dekade dan sejauh ini mampu bertahan.
AS Ingin Putus Perdagangan Iran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kampanye baru tersebut sebagai "Serangan keuangan terbesar yang pernah dilancarkan terhadap musuh".
Washington meminta negara-negara lain menghentikan perdagangan dengan Iran dan mengancam menggunakan sanksi sekunder terhadap pihak yang tidak mengikuti tuntutan tersebut.
Strategi ini membuat Tiongkok menjadi salah satu ujian terbesar bagi Washington. Tiongkok selama bertahun-tahun menjadi pembeli utama minyak Iran.
Namun, Beijing sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan tunduk dengan ancaman Washington.
Baca Juga: Trump Sebut Iran Belum Siap untuk Kesepakatan, AS Siapkan Sanksi Baru
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian kembali menegaskan Beijing menentang sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar hukum internasional.
Tiongkok juga menilai sanksi, tekanan dan kekuatan militer bukan solusi untuk menyelesaikan konflik.
Iran Sebut AS Mengulang Strategi Lama
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai sanksi baru tersebut merupakan tanda keputusasaan Washington dan hanya mengulang strategi lama.
Hassan Ahmadian, profesor studi Asia Barat di Universitas Teheran, mengatakan sanksi yang diumumkan sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Iran.
"Tidak ada satu pun sanksi baru. Segala sesuatu di Iran telah berada di bawah sanksi primer dan sekunder sejak 2018," kata Ahmadian.
Baca Juga: AS Siapkan Sanksi Ekonomi Terkeras untuk Gulingkan Pemerintahan, Iran Ancam Balasan Dahsyat
Menurutnya, Washington kembali menggunakan tekanan ekonomi setelah pendekatan militer gagal mencapai tujuan yang diinginkan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei juga memperingatkan dampak sanksi akan dirasakan masyarakat biasa.
"Mengulangi metode yang sebelumnya terbukti gagal tidak akan menghasilkan hasil yang berbeda, kecuali bahwa itu menunjukkan sejauh mana Amerika bermusuhan dan dengki terhadap setiap orang Iran, karena mereka tahu betul bahwa efek dari sanksi ini akan memengaruhi warga negara Iran biasa," ujarnya.
Ancaman Iran membuat Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam eskalasi konflik terbaru.
Jalur strategis tersebut berperan penting dalam pengiriman energi dari kawasan Teluk ke pasar global.
Baca Juga: Presiden Iran Masoud Pezeshkian Nilai Saat Ini Tepat untuk Mengakhiri Perang dengan AS
Jika Iran benar-benar mengganggu lalu lintas minyak di kawasan tersebut, konsekuensinya dapat melampaui perang ekonomi antara Washington dan Teheran.
Pasar minyak global berpotensi menghadapi gangguan pasokan dan lonjakan harga, sementara negara-negara yang bergantung pada energi dari kawasan Teluk harus menghadapi risiko baru.
Di tengah situasi itu, Kepala Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Syed Asim Munir terbang ke Teheran pada Senin (24/8).
Ia hendak mengeksplorasi peluang menghidupkan kembali pembicaraan mengenai nota kesepahaman yang sebelumnya mandek.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tekanan AS terhadap Iran kini bukan hanya persoalan ekonomi.
Baca Juga: Donald Trump Siap Luncurkan Operasi Ekonomi Paling Menghancurkan untuk Isolasi Iran
Jika ancaman terhadap Selat Hormuz berubah menjadi aksi nyata, dampaknya dapat dirasakan hingga ke pasar energi dunia.