Baca Juga: Tak Sekadar Menari, 23 Tim Robot Humanoid Diuji dalam Misi Pemadaman Kebakaran di Tiongkok
Tien Kung Ultra Kembali Pecahkan Rekor di 400 Meter
Tidak berhenti di nomor 100 meter, model robot humanoid yang sama kembali menunjukkan performa impresif dalam final lari 400 meter pada Minggu. Tien Kung Ultra mencatat waktu 38,15 detik.Catatan tersebut melampaui rekor dunia manusia 43,03 detik yang dibuat atlet Afrika Selatan, Wayde van Niekerk. Rekor Van Niekerk tersebut tercipta saat tampil pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
Pencapaian tersebut memperlihatkan perkembangan kemampuan robot humanoid dalam menjaga kecepatan dan koordinasi gerak. Meski demikian, kondisi robot saat perlombaan juga menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih menghadapi tantangan dari sisi stabilitas dan ketahanan mesin.
Diikuti Ribuan Robot dari Berbagai Negara
World Humanoid Robot Games di Beijing diikuti lebih dari 2.000 robot humanoid. Robot-robot tersebut diturunkan oleh lebih dari 660 tim yang berasal dari 16 negara.
Sekitar 90 persen peserta berasal dari Tiongkok. Sementara itu, sejumlah negara lain seperti Brasil, Jerman, dan Amerika Serikat turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
Ajang yang digelar di ibu kota Tiongkok pada Agustus itu merupakan edisi lanjutan dari kompetisi perdana yang digelar pada Agustus tahun sebelumnya. Pada penyelenggaraan pertama, terdapat 280 tim yang berpartisipasi.
Saat itu, catatan waktu terbaik untuk nomor lari 100 meter mencapai 20,50 detik. Sementara pada nomor 400 meter, waktu kemenangan tercatat 1 menit 28,03 detik.
Perkembangan catatan waktu tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan robot dalam kompetisi olahraga. Dalam waktu relatif singkat, performa robot humanoid mengalami kemajuan yang cukup signifikan.
Robot Jepang Gagal Menang
Partisipasi internasional juga terlihat dari kehadiran tim Jepang yang menurunkan robot dalam sejumlah nomor atletik. Robot tersebut diikutsertakan oleh GMO Internet Group dan dikembangkan perusahaan robotika asal Tiongkok, Unitree Robotics.
Robot tersebut tampil dalam beberapa nomor, termasuk lari 400 meter untuk kategori robot berukuran kecil. Namun, performanya belum mampu membawa tim tersebut menjadi pemenang.
Dalam salah satu babak penyisihan, robot itu berhasil mencapai garis finis dengan catatan waktu lebih dari 1 menit 55 detik. Tak lama setelah menyelesaikan lomba, robot tersebut roboh dan harus diangkut menggunakan tandu.
Shota Takizawa, insinyur peneliti senior GMO, mengatakan keikutsertaan dalam kompetisi tersebut bukan semata-mata untuk menciptakan robot yang dirancang khusus untuk perlombaan.
Shota menjelaskan perusahaan "tidak bertujuan mengembangkan robot khusus untuk perlombaan, melainkan berencana memanfaatkan pengetahuan teknis" yang diperoleh melalui kompetisi tersebut untuk penggunaan praktis di masa depan.
Robot Mulai Diuji untuk Kebutuhan Dunia Nyata
Kompetisi tersebut berlangsung di National Speed Skating Oval. Arena itu sebelumnya menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.
Nomor yang dipertandingkan juga tidak terbatas pada olahraga lari. Para peserta berkompetisi dalam cabang sepak bola, tinju, tenis meja, angkat besi, hingga tarik tambang.
Selain perlombaan olahraga, penyelenggara menghadirkan berbagai kegiatan berbasis skenario. Kegiatan tersebut dirancang untuk memperlihatkan kemungkinan penerapan robot humanoid dalam kehidupan nyata, termasuk pada sektor ritel, layanan katering, dan pekerjaan perkantoran.
Pada hari pembukaan, terdapat pertandingan sepak bola ekshibisi. Demonstrasi olahraga lain seperti tenis dan tenis meja juga digelar dengan mempertemukan manusia dan robot.
Perkembangan teknologi robot humanoid di Tiongkok juga terlihat dalam ajang olahraga lain. Pada April lalu, Beijing menjadi tuan rumah lomba lari setengah maraton yang mempertemukan robot humanoid dengan pelari amatir.
Robot yang menjadi pemenang dalam ajang tersebut mencatat waktu 50 menit 26 detik. Catatan itu bahkan disebut berhasil melampaui rekor dunia manusia untuk nomor tersebut.
Rangkaian kompetisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan robot humanoid kini tidak hanya berfokus pada kemampuan berjalan atau melakukan pekerjaan sederhana. Kemampuan berlari, berolahraga, berinteraksi, hingga menjalankan tugas dalam berbagai skenario mulai menjadi bagian dari pengembangan teknologi robot generasi baru.