← Beranda
Robot Polisi SUPCON Mulai Bertugas di Hangzhou, Ambil Alih Tugas Rutin Polisi Lalu Lintas
Mellyna Putri DiniarSabtu, 22 Agustus 2026 | 06.12 WIB
Robot polisi mengatur lalu lintas di Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok (Reuters)

 


JawaPos.com
- Robot humanoid mulai mengambil sebagian pekerjaan polisi lalu lintas di Tiongkok. Di persimpangan sibuk Hangzhou, robot T2 buatan SUPCON Information mendeteksi pelanggaran, memberi peringatan, mengarahkan lalu lintas, hingga menghubungkan pengguna dengan polisi saat keadaan darurat. Namun, mesin setinggi 1,88 meter dan berbobot 98 kilogram itu belum memiliki kewenangan menangkap pelanggar.

Berbeda dari gambaran RoboCop dalam film 1987, T2 tidak membawa senjata dan bergerak dengan roda. Kamera, radar, serta sistem komputasi di dalamnya memungkinkan robot mengenali pengendara sepeda listrik tanpa helm, sepeda listrik yang membawa penumpang, kendaraan yang melewati garis berhenti, dan pejalan kaki yang menyeberang saat lampu merah. Lengannya yang memiliki tujuh sendi juga meniru gerakan standar polisi lalu lintas dan bergerak selaras dengan lampu pengatur lalu lintas.

Dilansir dari Reuters, Jumat (21/8/2026), penerapan T2 mencerminkan perkembangan industri robotika Tiongkok yang mulai membawa robot dari arena atraksi pameran ke pekerjaan nyata. Robot tersebut dapat menjawab pertanyaan mengenai arah perjalanan, lokasi parkir, dan aturan lalu lintas, serta menghubungkan pengguna dengan polisi setempat dalam kondisi darurat.

Baca Juga: Tak Sekadar Menari, 23 Tim Robot Humanoid Diuji dalam Misi Pemadaman Kebakaran di Tiongkok

Sejak Mei, SUPCON telah menempatkan 15 robot di Hangzhou. "Robot-robot tersebut telah mengeluarkan lebih dari 170.000 peringatan dan membantu menurunkan lebih dari 40 persen kasus bulanan pengendara tanpa helm serta kendaraan yang melewati garis berhenti," kata perusahaan. Namun, polisi lalu lintas Hangzhou tidak memberikan tanggapan, sementara Reuters tidak dapat memverifikasi angka tersebut secara independen.

Selain itu, SUPCON menguji robot selama ribuan jam di kawasan wisata, zona sekolah, distrik bisnis, jam sibuk, dan kondisi cuaca buruk. Perusahaan mengklaim tingkat akurasi pengenalan pelanggaran melebihi 95 persen, meski kamera dan radar tetap dapat terpengaruh cahaya matahari yang kuat, hujan, serta suhu ekstrem. Tujuan penerapannya bukan sekadar menindak, melainkan memberi peringatan sebelum pelanggaran berubah menjadi kebiasaan.

"Robot itu tidak lelah. Robot dapat bekerja secara stabil dalam waktu yang lama," kata Cao Hui, kepala pusat inovasi sistem tak berawak SUPCON, sebagaimana dikutip Reuters.

Robot beroperasi secara otonom dari pukul 07.00 hingga 18.00, berpindah di antara posisi yang telah ditentukan tanpa kendali jarak jauh. Tim polisi lalu lintas tetap memantau dan mengerahkan robot melalui sebuah platform pusat.

Skala penerapannya juga mulai meluas. SUPCON menyebut hampir 50 robot serupa telah beroperasi di sekitar delapan kota di tiga provinsi Tiongkok dan menargetkan jumlahnya mendekati 200 unit pada akhir tahun. Perkembangan ini menunjukkan bahwa robot humanoid mulai diuji bukan hanya sebagai perangkat demonstrasi, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur layanan publik sehari-hari.

Pergerakan tersebut membuka peluang ekspor. Perusahaan robotika yang didukung Chery, AiMOGA, melihat pasar potensial di wilayah dengan kondisi kerja berat bagi polisi lalu lintas, termasuk suhu tinggi di Timur Tengah dan musim hujan panjang di Asia Tenggara.

Sebelumnya, AiMOGA juga telah memperluas penggunaan robotnya ke sejumlah pasar luar negeri, sehingga robot layanan publik menjadi bagian dari strategi ekspansi teknologi Tiongkok.

Namun, ekspansi global tidak sesederhana mengirim produk ke negara lain. Eksekutif AiMOGA Zhang Guibing mengatakan penerapan robot polisi di luar negeri "akan jauh lebih rumit daripada mengekspor mobil."

Robot harus terintegrasi dengan sistem teknologi informasi penegak hukum setempat, memperoleh sertifikasi, serta memenuhi aturan perlindungan data karena mengandalkan kamera dan berbagai sensor

Pada akhirnya, tantangan terbesar robot polisi Tiongkok bukan lagi sekadar kemampuan bergerak atau mengenali pelanggaran. Persoalannya bergeser ke bagaimana teknologi tersebut dapat masuk ke sistem hukum, keamanan, dan tata kelola data di negara lain.

Jika hambatan itu dapat diatasi, eksperimen Hangzhou berpotensi menjadi contoh awal ekspor teknologi robotika Tiongkok untuk fungsi publik, bukan sekadar penjualan perangkat.

Baca Juga: Shenzhen Mampu Bangun Robot dalam 30 Menit, Ekosistem Industri Tiongkok Pacu Dominasi Robotika

EDITOR: Candra Mega Sari