← Beranda
Bioskop Inggris Pertimbangkan Larangan Meta AI Glasses, Khawatir Pembajakan Film
Mellyna Putri DiniarJumat, 21 Agustus 2026 | 04.08 WIB
Mark Zuckerberg mengenakan kacamata Meta Ray-Ban Display (Sky News)

 

JawaPos.com - Kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) milik Meta mulai menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar penerimaan konsumen. Bioskop di Inggris kini mempertimbangkan pembatasan atau pelarangan penggunaannya karena kamera tersembunyi di bingkai kacamata dinilai membuka celah pembajakan film dan perekaman tanpa izin.

Dilansir dari Sky News, Kamis (20/8/2026), UK Cinema Association (UKCA) menyebut seluruh operator bioskop besar di Inggris sedang mempertimbangkan aturan terhadap kacamata berkamera tersebut. Sejumlah pihak bahkan menjulukinya "kacamata mata-mata" atau "kacamata mesum."

Namun, sejauh ini belum ada larangan resmi yang diterapkan bioskop, karena operator masih menimbang risiko privasi dan pembajakan dengan manfaat aksesibilitas bagi pengguna tertentu. 

Baca Juga: Apple Masuk Perang Kacamata Pintar, Privasi Jadi Pembeda Melawan Meta

Teknologi itu memungkinkan pemakai mengambil foto dan merekam video secara hands-free, sementara lampu kecil akan menyala ketika perekaman berlangsung

Selain kamera, Meta Glasses dapat digunakan untuk berbicara dengan AI, mendengarkan musik, menerima panggilan, serta menerjemahkan percakapan. Model tertentu juga memiliki layar pada lensa kanan untuk membaca pesan, melihat peta, atau menerjemahkan percakapan tanpa mengeluarkan ponsel.

Persoalannya, popularitas perangkat berkembang lebih cepat daripada aturan yang mengaturnya. Meta menjual lebih dari tujuh juta pasang kacamata tersebut sepanjang 2025. 

Kampanye bersama miliarder Kylie Jenner turut meningkatkan perhatian publik terhadap produk yang menggabungkan fungsi kacamata dengan AI. Perkembangan itu membuat persoalan penggunaan perangkat berkamera di ruang publik semakin sulit diperlakukan sebagai isu teknologi semata. 

Di bioskop, kekhawatiran utamanya adalah kemungkinan perekaman film secara ilegal. Namun, Phil Clapp, kepala eksekutif UKCA, mengingatkan bahwa pelarangan menyeluruh juga dapat mengabaikan kebutuhan penonton dengan gangguan penglihatan atau pendengaran. 

Beberapa kacamata pintar bahkan menyediakan teks terjemahan atau subtitel yang disesuaikan, sehingga perangkat yang sama dapat menjadi alat aksesibilitas sekaligus sumber risiko.

Respons serupa telah muncul di tempat lain. Wetherspoons, salah satu jaringan pub terbesar di Inggris, melarang pelanggan menggunakan kacamata tersebut untuk merekam.

Kepala eksekutifnya, Tim Martin, mengatakan, "Aturan umum yang berlaku di pub kami, dan sebagian besar pub, adalah Anda tidak boleh merekam pelanggan atau karyawan tanpa izin. Kacamata Meta tampaknya melanggar aturan ini dan akal sehat karena memungkinkan pengawasan secara diam-diam, sehingga naluri kami adalah mengatakan matikan kameranya."

Sementara itu, ATG Theatres, operator Bristol Hippodrome, Edinburgh Playhouse, dan sejumlah teater di London, juga tidak mengizinkan perekaman menggunakan kacamata tersebut. Penonton yang memakainya selama pertunjukan akan diminta melepasnya. Dengan demikian, pembatasan mulai muncul di ruang hiburan yang berbeda, meski bentuk dan dasar kebijakannya dapat berbeda antaroperator. 

Bahkan lembaga peradilan Inggris mengambil posisi lebih tegas. His Majesty's Courts and Tribunals Service (HMCTS) mengatakan kepada The Guardian, "Penggunaan kacamata Meta dilarang," karena terdapat pembatasan terhadap pengambilan gambar atau video di pengadilan dan tribunal. Sebelumnya, The Guardian melaporkan kacamata tersebut juga telah dilarang di pengadilan Inggris dan Wales. 

Baca Juga: Alibaba Qwen Salip Meta dan Google, Model AI Open-Source Tiongkok Kuasai Pengembang Global

Meta menolak gagasan bahwa teknologi tersebut semata-mata merupakan ancaman privasi. Juru bicara perusahaan mengatakan kacamata itu "menyediakan teknologi baru yang sangat penting bagi komunitas tunanetra dan orang dengan penglihatan rendah."

Mereka menambahkan, "Membatasi cara orang menggunakan teknologi ini akan menjadi langkah besar ke belakang."

Meta juga menyatakan, "Secara alami, ada tempat-tempat yang memang tidak boleh direkam sama sekali, dan itu masuk akal, tetapi aturan harus diterapkan secara konsisten. Kacamata kami memiliki lampu yang menyala untuk memberi tahu orang ketika foto atau video diambil, sesuatu yang tidak dimiliki ponsel pintar dan kamera lainnya."

Perdebatan itu menunjukkan persoalan yang akan semakin relevan seiring wearable AI menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: bukan lagi apakah teknologi tersebut mampu merekam, menerjemahkan, atau memahami lingkungan, melainkan di mana kemampuan itu boleh digunakan. 

Bagi Meta dan Mark Zuckerberg, penerimaan sosial akan menjadi ujian penting berikutnya. Di Inggris, bioskop, pub, teater, dan pengadilan kini mulai menetapkan batasnya sendiri sebelum teknologi tersebut benar-benar menjadi perangkat umum. 

EDITOR: Candra Mega Sari