JawaPos.com - Mantan anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Marjorie Taylor Greene, mengklaim penggunaan senjata nuklir terhadap Iran telah dibahas dalam rapat strategi tingkat tinggi pemerintah AS.
Bahasan itu muncul di tengah perang Washington dan Teheran yang terus berlangsung, sekaligus memicu peringatan bahwa eskalasi nuklir dapat membawa konsekuensi jauh melampaui konflik saat ini.
Greene menyampaikan klaim tersebut melalui akun X. Ia menegaskan informasi yang disampaikannya bukan sekadar dugaan, meski tidak mengungkap siapa pejabat yang disebut terlibat dalam pembahasan tersebut maupun bukti yang mendasari pernyataannya.
"Mereka sedang membahas penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam pertemuan strategi," tulis Greene di X.
Ia kemudian menambahkan: "Ya, kamu membaca itu dengan benar. Itu nyata. Aku tidak berspekulasi, aku tahu."
Greene juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai upaya menurunkan ambang penggunaan senjata nuklir dalam menghadapi Iran. Menurut dia, langkah tersebut berpotensi membuka konsekuensi yang sangat berbahaya bagi dunia.
"Dan sekarang pemerintah kita adalah orang yang sebenarnya membahas penurunan ambang batas nuklir untuk menggunakan senjata nuklir melawan Iran," tulisnya.
Greene Peringatkan Ancaman 'Nuclear Holocaust'
Greene juga mengaitkan kekhawatirannya dengan sejarah penggunaan senjata nuklir Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Ia menyinggung bukan hanya korban jiwa akibat serangan tersebut, tetapi juga dampak radiasi yang berlangsung dalam jangka panjang.
Menurut Greene, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pelajaran penting agar senjata nuklir tidak kembali digunakan dalam konflik berskala besar.
Ia bahkan memperingatkan bahwa keputusan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran dapat menyeret konflik menjadi perang yang jauh lebih luas.
Greene menyebut Presiden Donald Trump "Mungkin sebenarnya orang yang memberikan bencana nuklir yang kemungkinan besar akan menyeret seluruh dunia ke dalam konflik besar, depresi ekonomi, dan penderitaan manusia massal yang belum pernah kita lihat dalam hidup kita dan mungkin sepanjang sejarah."
Ia kemudian menyerukan masyarakat Amerika untuk menolak kemungkinan eskalasi tersebut.
Dalam pernyataannya, Greene turut menghubungkan isu senjata nuklir dengan informasi intelijen AS mengenai program nuklir Iran sebelum perang.
Ia mengklaim Presiden Trump dan anggota pemerintahannya telah menerima penilaian intelijen AS bahwa Iran masih jauh dari kemampuan membuat senjata nuklir. Di sisi lain, menurut Greene, Israel terus menyampaikan klaim bahwa Iran hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencapai kemampuan tersebut.
"Trump dan adminnya diberitahu oleh intelijen kami sendiri bahwa Iran tidak ada di mana pun untuk menciptakan senjata nuklir, kemudian Israel mengatakan hal yang sama yang diulang selama beberapa dekade, 'Iran hanya tinggal beberapa minggu lagi," tulis Greene.
Greene kemudian menyoroti keputusan Washington tetap melakukan serangan terhadap Iran.
"Jadi kami tetap saja mengebom," lanjutnya.
Pernyataan itu memperlihatkan kritik Greene terhadap dasar intelijen dan alasan strategis yang digunakan untuk melancarkan perang.
Greene juga menilai perang belum menghasilkan kemenangan menentukan seperti yang berulang kali diklaim pemerintahan Trump. Ia secara khusus menyinggung Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik AS-Iran.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz telah mengalami penurunan tajam, sementara persoalan navigasi dan akses melalui jalur tersebut menjadi bagian penting dalam upaya diplomasi untuk meredakan konflik.
Greene mempertentangkan kondisi itu dengan klaim kemenangan yang disampaikan Trump. Menurut dia, jika perang belum menghasilkan penyelesaian yang menentukan tetapi opsi penggunaan senjata nuklir justru mulai dibahas, risiko eskalasinya menjadi jauh lebih besar.
Di akhir pernyataannya, Greene kembali menyerukan agar senjata nuklir tidak digunakan dan perang dihentikan.
Ia memperingatkan bahwa apabila senjata nuklir benar-benar digunakan, para pemimpin yang mengambil keputusan tersebut akan menghadapi pertanggungjawaban historis yang sangat besar.
"Jika dan ketika itu terjadi, semua orang, dan maksud saya semua orang, akan menganggap SEMUA orang yang memimpin saat ini bertanggung jawab penuh atas sisa sejarah manusia," tulisnya.
Baca Juga: Trump Ancam Bom Oman, Iran Didesak Menyerah Saat Gencatan Senjata Berakhir
Greene menutup seruannya dengan pesan tegas: "Jangan gunakan senjata nuklir dan hentikan perang ini SEKARANG."
Hingga laporan ini dibuat, Gedung Putih belum mengkonfirmasi klaim Greene mengenai pembahasan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Menurut Anadolu, pemerintahan AS juga belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait tuduhan tersebut.