← Beranda
Trump Ancam Bom Oman, Iran Didesak Menyerah Saat Gencatan Senjata Berakhir
Rian AlfiantoRabu, 19 Agustus 2026 | 00.21 WIB
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (L.E. Baskow / Reuters/Reuters)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menaikkan tekanan terhadap Iran. Hal ini setelah kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari berakhir tanpa kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Trump mendesak Iran menyerah dan bahkan mengancam akan membombardir Oman, jika negara itu dianggap menghambat upaya membuka kembali Selat Hormuz.

Ancaman tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News awal pekan kemari. Ia mengatakan Iran harus mengibarkan bendera putih tanda menyerah setelah perang yang telah berlangsung selama lima bulan.

Trump juga mengungkap bahwa pemerintahannya telah membuka jalur komunikasi langsung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ia menyebut para pejabat IRGC sebagai 'pemain poker yang hebat' yang saat ini sedang 'sekarat'.

Meski demikian, Trump menegaskan dirinya tidak terburu-buru mengakhiri konflik. "Aku tidak punya jadwal waktu. Aku tidak terburu-buru," kata Trump.

Pernyataan Trump menjadi semakin keras ketika membahas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sangat penting bagi perdagangan minyak dunia. Iran telah memblokade jalur tersebut di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Trump bahkan mengancam sekutu AS, Oman, apabila negara tersebut dinilai menghalangi kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran.

"Jika Oman menghalangi, kita akan mengebom s*** dari mereka," ancam Trump.

Ancaman tersebut muncul ketika Iran dan Oman justru tengah membahas mekanisme baru untuk menjaga kelancaran pelayaran komersial di Selat Hormuz. Pejabat Iran menyebut kedua negara telah mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran baru di kawasan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran juga mengatakan Tehran dan Muscat sedang menyusun deklarasi bersama.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan mekanisme tersebut dirancang untuk melindungi kepentingan Iran dan Oman sekaligus menjaga keselamatan pelayaran komersial.

“Ini adalah pertama kalinya sebuah mekanisme dikembangkan untuk secara bersamaan menjaga hak-hak berdaulat kedua negara pesisir dan memastikan jalur aman bagi kapal-kapal komersial,” kata Baghaei.

Di sisi lain, Iran menilai berakhirnya tenggat waktu 60 hari tidak secara otomatis mengubah posisi Tehran dalam negosiasi dengan Washington.

Baghaei bahkan menuduh Amerika Serikat dan Israel berupaya menggagalkan pembicaraan mengenai Selat Hormuz. Menurutnya, kebuntuan antara Iran dan AS bukan disebabkan kurangnya mediator, melainkan pendekatan pemerintahan Trump yang disebutnya telah gagal berulang kali.

Baghaei juga menolak menganggap berakhirnya memorandum of understanding (MoU) sebagai titik balik penting. Menurut Iran, kesepakatan tersebut telah kehilangan makna setelah Amerika Serikat dianggap melanggarnya hanya beberapa pekan setelah ditandatangani.

Baca Juga: Trump Ingin Kuasai Selat Hormuz, Iran Tegaskan Tetap di Bawah Kendali

"Karena pelanggaran besar dan luas terhadap memorandum oleh Amerika Serikat hanya beberapa minggu setelah ditandatangani, tidak ada pembicaraan yang dimulai," ujar Baghaei.

Dengan posisi itu, Tehran menegaskan tidak akan mengubah sikap hanya karena tekanan ekonomi maupun ancaman sanksi baru dari Washington, termasuk laporan mengenai kemungkinan blokade darat.

EDITOR: Kuswandi