JawaPos.com - Ratusan pemukim Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Kamis (13/8) pagi waktu setempat . Penyerbuan ini mendapat perlindungan dari aparat keamanan Israel.
Aksi tersebut kembali memicu ketegangan di salah satu situs paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Dilansir dari TRT World, sedikitnya 584 pemukim memasuki kompleks melalui Gerbang Maroko, yang berada di sisi barat kawasan Al-Aqsa, menurut pejabat Departemen Wakaf Islam Yerusalem.
Baca Juga: Pria di Probolinggo Dibacok Saat Tagih Utang Rp 500 Ribu, Pelaku Diamankan
Pengawalan aparat keamanan Israel menjadi sorotan karena aksi tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai pelanggaran status quo yang selama ini mengatur aktivitas di kompleks Al-Aqsa.
Mereka datang melalui Gerbang Maroko, salah satu akses menuju kawasan Al-Aqsa. Menurut pejabat Departemen Wakaf Islam Yerusalem, jumlah pemukim yang masuk berpotensi bertambah pada siang hari.
Kehadiran mereka tidak hanya berupa kunjungan biasa. Sejumlah saksi mengatakan beberapa kelompok melakukan ritual keagamaan, berdoa dan menari di dalam kompleks.
Aktivitas tersebut dinilai melanggar status quo yang selama ini menjadi dasar pengaturan aktivitas keagamaan di kawasan tersebut.
Aparat Israel Lindungi Aksi Pemukim
Masuknya ratusan pemukim berlangsung dengan perlindungan aparat keamanan Israel. Situasi ini membuat keberadaan pasukan keamanan menjadi bagian penting dalam aksi tersebut, bukan sekadar pengamanan rutin di sekitar lokasi.
Aksi masuk pemukim ke kompleks Al-Aqsa memang telah menjadi kejadian berulang. Otoritas Israel mulai mengizinkan kegiatan semacam itu pada 2003 dan sejak itu jumlah aksi masuk dilaporkan meningkat dari waktu ke waktu.
Pengecualian umumnya berlaku pada Jumat dan Sabtu. Penyerbuan masjid Al-Aqsa kali ini juga bertepatan dengan hari pertama bulan baru dalam kalender Ibrani. Periode tersebut biasanya diikuti peningkatan aksi masuk pemukim ke kompleks yang penting bagi umat Islam tersebut.
Diketahui, masjid Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam. Sementara itu, umat Yahudi menyebut kawasan yang lebih luas tersebut sebagai Temple Mount dan meyakininya sebagai lokasi dua kuil Yahudi kuno.
Kompleks tersebut berada di Yerusalem Timur, wilayah yang diduduki Israel dalam Perang Arab-Israel 1967. Israel kemudian mencaplok Yerusalem Timur pada 1980, tetapi langkah tersebut tidak diakui oleh komunitas internasional.
Karena memiliki arti keagamaan dan politik yang sangat besar bagi kedua pihak, setiap perubahan aktivitas di kompleks Al-Aqsa berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas.
Aksi ratusan pemukim Israel yang memasuki kawasan tersebut dengan perlindungan aparat keamanan kembali menyoroti persoalan status quo Al-Aqsa dan posisi Yerusalem Timur yang hingga kini menjadi salah satu isu utama dalam konflik Israel-Palestina.