JawaPos.com - Hujan ekstrem yang mengguyur Chiba, Jepang, menewaskan sedikitnya empat orang dan membuat satu orang masih tidak sadarkan diri. Banjir juga merendam berbagai ruas jalan hingga memicu peringatan bahaya tertinggi di wilayah yang berada dekat Tokyo.
Seperti dilansir Kyodo, Jumat (14/8), hujan deras mengguyur Jepang bagian timur sejak Kamis dan berlanjut hingga Jumat pagi. Badan Meteorologi Jepang sempat mengeluarkan peringatan Level 5, tingkat tertinggi dalam sistem peringatan bencana, untuk lebih dari sepertiga wilayah administratif di Prefektur Chiba.
Peringatan Level 5 untuk risiko longsor juga dikeluarkan di sejumlah wilayah, termasuk Kota Chiba dan Ichihara. Seluruh peringatan tersebut diturunkan levelnya pada Jumat pagi.
Hujan ekstrem terjadi setelah udara hangat dan lembap mengalir ke Jepang timur dan bertemu dengan udara dingin di lapisan atas. Kondisi tersebut membuat atmosfer sangat tidak stabil dan hujan deras masih berpotensi terjadi di Chiba serta wilayah sekitarnya hingga Jumat.
Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat perintah evakuasi sempat diberlakukan bagi lebih dari 400.000 orang di Chiba dan Prefektur Ibaraki. Hingga pukul 07.00 Jumat, perintah tersebut masih berlaku bagi sekitar 126.000 orang di kedua prefektur.
Lebih dari 200 tempat pengungsian dibuka di Chiba, Ibaraki, Saitama, dan Gunma, menurut Kantor Kabinet Jepang.
Seorang pria yang terlihat berada di tengah banjir di jalan yang terendam di Ichikawa kemudian dipastikan meninggal dunia. Pemerintah Prefektur Chiba juga melaporkan seorang perempuan berusia 66 tahun tewas setelah terjebak di dalam mobil di jalan yang kebanjiran di Sakura.
Polisi mengatakan seorang pria lainnya ditemukan tidak sadarkan diri di jalan yang terendam di Yachiyo dan kemudian dipastikan meninggal dunia. Pemerintah prefektur juga menyatakan seorang pria yang ditemukan dalam kondisi tergeletak di Sakura meninggal dunia.
Sementara itu, seorang perempuan yang terjebak di dalam mobil di Kashiwa telah dibawa ke rumah sakit, tetapi masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Di Kota Chiba, air menyembur dari sejumlah lubang saluran air. Warga juga harus menerobos genangan setinggi lutut ketika berusaha pulang.
Sekitar 1.800 orang berkumpul di gedung pemerintah Prefektur Chiba yang dibuka untuk warga yang tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat banjir.
Seorang perempuan berusia 34 tahun yang sedang dalam perjalanan pulang dari Tokyo mengatakan air telah merendam tubuhnya hingga lutut. Sejumlah toko swalayan dan pos polisi juga mengalami pemadaman listrik.
"Saya basah kuyup sampai lutut, sementara toko swalayan dan pos polisi mengalami pemadaman listrik. Saya merasa tidak aman," katanya.
"Saya sebenarnya ingin menghindari bermalam di sini, tetapi saya harus menunggu hujan berhenti dan air surut. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya," lanjutnya.
Perempuan lain berusia 24 tahun mengatakan dirinya tidak dapat pulang setelah selesai bekerja dan akhirnya menghabiskan malam di gedung pemerintah tersebut.
"(Pemerintah prefektur) dengan baik hati memberi kami biskuit dan handuk. Di dalam sedikit dingin, tetapi saya bisa tidur sekitar empat jam," katanya.
Di Distrik Chuo, Kota Chiba, curah hujan dalam satu jam mencapai 115 milimeter pada Kamis malam. Angka tersebut hampir setara dengan curah hujan bulanan normal wilayah tersebut sepanjang Agustus.
Pemadaman listrik juga sempat berdampak pada sekitar 45.000 rumah di Prefektur Chiba, menurut salah satu anak perusahaan Tokyo Electric Power Company Holdings Inc.