JawaPos.com – Warga Palestina di Gaza merespons dengan skeptisisme dan frustrasi setelah Israel menolak rencana 15 poin yang diusulkan untuk mengakhiri perang.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Rabu (12/8), Rencana yang didukung Amerika Serikat tersebut mencakup penarikan bertahap pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, pembentukan pemerintahan sipil yang dipimpin Palestina, serta bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana tersebut dan menegaskan pasukannya tidak akan mundur sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya.
Penolakan tersebut memperkuat keraguan sejumlah warga Gaza mengenai kemungkinan tercapainya perdamaian yang bertahan lama.
Nesma Harazin, warga Kota Gaza, mengatakan kesepakatan gencatan senjata sebelumnya tidak menghentikan serangan dan ia khawatir penolakan terbaru akan memicu operasi militer yang lebih besar.
Sementara itu, Mehdi Ahmed menilai setiap gencatan senjata berpotensi hanya bersifat sementara setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik dan pendudukan.
Warga Gaza berharap kesepakatan yang benar-benar mengakhiri perang mencakup penarikan pasukan Israel, penghentian serangan, pembangunan kembali wilayah yang hancur, serta kepulangan warga yang mengungsi.
Ramez Haniyeh, yang kehilangan rumah dan mengungsi ke Nuseirat, menilai rencana tersebut merupakan peluang untuk menghentikan pertempuran dan mengurangi penderitaan masyarakat. Namun, ia juga khawatir penolakan Israel akan memicu eskalasi dan memperburuk kondisi kemanusiaan serta ekonomi di Gaza.
Hamas menyatakan tetap berkomitmen menjalankan rencana tersebut dan meminta negara-negara mediator serta penjamin mengambil tanggung jawab untuk menjaga proses negosiasi.
Kantor Media Pemerintah Gaza juga menilai penolakan Netanyahu sebagai kemunduran dalam jalur perundingan dan menyerukan tekanan internasional untuk mencegah eskalasi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah warga Gaza mengaku tetap mempertahankan harapan meskipun meragukan perang dapat segera berakhir.
***