← Beranda
Iran-Oman Dekati Kesepakatan Jalur Kapal, Selat Hormuz Tetap Belum Dibuka
Rian AlfiantoSenin, 10 Agustus 2026 | 04.44 WIB
Peta Selat Hormuz yang diterbitkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di wilayah yang dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Iran, 4 Mei 2026 (Screenshot/X/@IranIntl_En)

 

 

JawaPos.com - Iran dan Oman semakin dekat mencapai kesepakatan mengenai jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut belum berarti Iran akan membuka kembali selat strategis itu secara penuh.

Perbedaan antara kedua hal tersebut menjadi poin penting dalam perkembangan terbaru Selat Hormuz. Iran bersedia membahas mekanisme agar kapal dapat melintas, tetapi keputusan untuk membuka kembali jalur tersebut tetap dipisahkan dari negosiasi teknis dengan Oman.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman hampir selesai. Jalur sementara itu disiapkan sembari kedua negara mengerjakan persoalan teknis dan hukum untuk membentuk Traffic Separation Scheme (TSS) permanen.

Araghchi menyebut kedua negara sudah sangat dekat untuk menyelesaikan negosiasi.

Namun, ia memperingatkan bahwa tercapainya kesepakatan dengan Oman tidak otomatis membuat Selat Hormuz kembali terbuka.

"Kesepakatan dengan Oman tentang rute tersebut tidak selalu berarti pembukaan kembali Selat Hormuz," kata Araghchi dilansir dari Iran International.

Jalur Kapal dan Pembukaan Hormuz Jadi Dua Persoalan Berbeda

Pernyataan Araghchi memperlihatkan bahwa Teheran kini membedakan persoalan keselamatan dan teknis pelayaran dengan keputusan politik untuk membuka Selat Hormuz.

Kesepakatan dengan Oman ditujukan untuk mengatur pergerakan kapal dalam kondisi saat ini. Sementara pembukaan penuh selat masih bergantung pada persoalan yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat.

Iran sebelumnya menyatakan pembukaan Hormuz terkait dengan tuntutan terhadap Washington, termasuk penghentian tekanan militer dan ekonomi terhadap Teheran.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad-Bagher Zolghadr kembali menegaskan posisi tersebut pada Sabtu.

"Memperbaiki perilakunya berarti bahwa Iran tidak boleh lagi diancam atau dipermalukan, agresi terhadap Iran dan sekutunya harus berakhir secara permanen, blokade laut harus dicabut, angkatan laut dan udara AS harus menarik diri dari sekitar Iran, kerusakan perang harus dikompensasi, sanksi harus dicabut, dan aset beku Iran harus dilepaskan," kata Zolghadr.

Ia juga memastikan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran tidak akan mengubah pendiriannya dalam proses negosiasi.

"Dewan Keamanan Nasional Tertinggi tidak akan pernah mundur, baik dalam perang maupun dalam negosiasi," ujarnya.

Oman Dorong Kesepakatan Pelayaran

Oman berada di posisi penting dalam upaya menjaga agar jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap dapat digunakan.

Kementerian Luar Negeri Oman mengatakan pembicaraan dengan Iran berlangsung dalam suasana 'positif dan konstruktif'.

Muscat juga mengecam serangan berulang terhadap kapal yang melintas di selat tersebut dan meminta seluruh pihak menghindari tindakan yang dapat mengganggu proses negosiasi.

Pembicaraan Iran-Oman mencakup pengaturan mengenai pelayaran yang aman, termasuk persoalan teknis seperti pembersihan ranjau dan mekanisme untuk mencegah kapal komersial menjadi sasaran serangan.

Iran sendiri menegaskan pembicaraan tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai keputusan untuk membuka Hormuz.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Hossein Mohebi bahkan menyatakan pembukaan selat tetap bergantung pada hubungan dengan Amerika Serikat.

"Setiap kali Amerika menerima kondisi Iran, Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali," kata Mohebi.

Washington sendiri melihat perkembangan tersebut dengan sikap yang jauh lebih berhati-hati.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran telah menyampaikan bahwa Teheran tidak berencana mengenakan pungutan terhadap kapal yang melewati Selat Hormuz.

Menurut Vance, Iran dan negara-negara Teluk, terutama Oman, sedang membicarakan mekanisme agar kapal dapat melintas dengan aman.

Pembahasan itu juga mencakup upaya membersihkan ranjau serta komitmen Iran untuk tidak menyerang kapal komersial.

Amerika Serikat berharap arus minyak dan gas dari kawasan Teluk dapat kembali ke tingkat sebelum konflik. Namun, Washington tidak ingin hanya mengandalkan janji dari Teheran.

"Kami tidak percaya, kami memverifikasi," kata Vance dalam wawancara yang ditayangkan Fox News pada Sabtu.

Baca Juga: Iran Tetapkan 6 Syarat untuk Buka Selat Hormuz, AS Diminta Hentikan Agresi

Sikap tersebut menunjukkan bahwa meski pembicaraan teknis mulai bergerak, Washington masih menunggu tindakan nyata Iran sebelum menganggap kondisi pelayaran di Hormuz benar-benar kembali normal. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan