← Beranda
3 Fakta Respons Kedubes Iran usai Pidato Prabowo soal Nuklir, Tegaskan Programnya Hanya untuk Tujuan
Rian AlfiantoSenin, 3 Agustus 2026 | 23.07 WIB
Presiden Prabowo Subianto. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung kekhawatiran munculnya perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah mendapat tanggapan resmi dari Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia.

Melalui akun X resminya, Kedubes Iran menyampaikan klarifikasi sekaligus menegaskan posisi negaranya terkait program nuklir.

Respons tersebut disampaikan setelah Prabowo menyebut isu kepemilikan senjata nuklir Iran berpotensi memicu negara-negara lain di kawasan mengikuti langkah serupa.

Lantas, apa saja poin penting yang disampaikan Kedubes Republik Islam Iran?

1. Iran Tegaskan Tidak Pernah Mengejar Senjata Nuklir

Poin utama yang disampaikan Kedubes Iran adalah penegasan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah memiliki ambisi mengembangkan senjata nuklir.

Dalam unggahannya, Kedubes menyatakan program nuklir Iran bukan untuk kepentingan militer maupun pengembangan senjata pemusnah massal.

"The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya," tulis Kedubes Iran melalui akun X resminya.

Pernyataan tersebut menjadi bantahan terhadap berbagai spekulasi yang berkembang mengenai kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.

2. Program Nuklir Diklaim Sesuai Hukum Internasional dan Diawasi IAEA

Kedubes Iran juga menekankan bahwa seluruh aktivitas nuklir negaranya berjalan dalam kerangka hukum internasional.

Iran menyebut program tersebut berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Perjanjian ini memberi hak bagi anggota memanfaatkan energi nuklir secara damai.

"Berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), menjalankan hak atas pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional."

Selain itu, Iran mengklaim seluruh fasilitas nuklirnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

"Berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Menerapkan salah satu rezim inspeksi nuklir paling ketat di dunia. Tidak ditujukan untuk pengembangan senjata nuklir."

3. Iran Sebut Senjata Nuklir Bertentangan dengan Doktrin Pertahanan

Fakta ketiga yang ditekankan Kedubes Iran berkaitan dengan prinsip pertahanan negaranya.

Dalam penjelasannya, Iran menyebut fatwa Pemimpin Republik Islam Iran mengharamkan penggunaan dan kepemilikan senjata nuklir. Senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan nasional.

"Fatwa Pemimpin Syahid Republik Islam Iran mengharamkan senjata nuklir. Senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran. Teknologi nuklir dimanfaatkan bagi kepentingan energi, kesehatan, dan penelitian."

Sebagai penutup, Kedubes Iran menegaskan program nuklir negaranya bersifat transparan, damai, dan dijalankan sesuai hukum internasional.

"Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.

Latar Belakang Pernyataan Prabowo

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kekhawatirannya pada meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah. Hal itu saat ia menghadiri pertemuan pengurus Kadin Indonesia dari 38 provinsi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7).

"Tiap sore, tiap malam dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi," kata Prabowo.

Ia menyinggung kekhawatiran global soal kemungkinan efek domino kepemilikan senjata nuklir kawasan.

"Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirate (UEA) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir," ujar Prabowo.

Baca Juga: Iran: AS Manfaatkan Isu Nuklir untuk Hancurkan Negaranya

Pidato tersebut jadi perhatian publik karena siaran langsung acara sempat terputus sesaat setelah Presiden membahas isu nuklir. Tayangan lantas berganti ke iklan dan kemudian berhenti. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan