JawaPos.com - Di tengah memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, muncul pertanyaan mengapa Teheran tidak langsung menyerang kapal perang atau kapal induk AS yang berada di dekat wilayahnya.
Sejumlah analis menilai langkah tersebut bukan karena Iran tidak mampu, melainkan bagian dari strategi untuk memberi tekanan kepada Presiden AS Donald Trump tanpa memicu perang yang lebih luas.
Alih-alih menyerang aset angkatan laut AS, Iran justru meningkatkan serangan ke berbagai fasilitas militer maupun infrastruktur sipil di negara-negara Teluk seperti Kuwait, Bahrain, hingga Yordania.
Baca Juga: Kronologi Suami Laporkan Istrinya di Bali karena Lahirkan Anak Tak Sesuai Rencana
Di sisi lain, Washington disebut terus menyerang sejumlah infrastruktur penting Iran, termasuk stasiun kereta api, fasilitas listrik, jaringan telekomunikasi, dan instalasi penyedia air minum.
Pengamat militer menilai pola serangan kedua belah pihak menunjukkan bahwa masing-masing masih berusaha mengendalikan eskalasi konflik meski intensitas perang terus meningkat.
Brigadir Jenderal Lebanon purnawirawan sekaligus analis militer Elias Hanna menjelaskan bahwa menyerang kapal perang AS akan membawa konsekuensi yang sangat besar bagi Iran.
"Menargetkan aset angkatan laut AS akan memicu respons yang sangat menghancurkan dari Amerika Serikat. Selain itu, secara militer target tersebut juga sangat sulit diserang karena memiliki perlindungan dan sistem pertahanan udara yang canggih," kata Hanna kepada Al Jazeera.
Iran Klaim Negara Teluk Jadi Basis Serangan AS
Pemerintah Iran beralasan serangan terhadap sejumlah negara Teluk dilakukan karena mereka diyakini menjadi lokasi yang digunakan AS untuk melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Teheran, Atifeh Taghiani, mengatakan Washington memanfaatkan negara-negara Teluk, khususnya Kuwait, untuk menyerang infrastruktur sipil Iran.
Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Taghiani menegaskan hukum internasional memberikan hak bagi Iran untuk membalas negara yang wilayahnya digunakan sebagai pangkalan serangan.
Ia juga menuding kapal perang AS sengaja menyerang fasilitas sipil Iran karena Washington ingin memperuncing permusuhan di kawasan.
"Amerika Serikat ingin memperdalam permusuhan di antara negara-negara kawasan dan berupaya membuat Iran semakin sulit memberikan respons," ujar Taghiani dikutip Kamis (23/7).
Namun, negara-negara Teluk berulang kali membantah tudingan tersebut. Mereka menegaskan wilayahnya tidak digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap Iran.
Analis Kuwait Sebut Klaim Iran Tidak Berdasar
Pandangan berbeda disampaikan Profesor Ilmu Politik Universitas Kuwait Abdullah al-Shayji. Ia menyebut tuduhan Iran sebagai propaganda yang sudah tidak lagi relevan.
Menurutnya, seluruh serangan AS terhadap Iran berasal dari dua kapal induk, yakni USS George W. Bush dan USS Abraham Lincoln, yang beroperasi sekitar 150 kilometer dari pantai Iran.
"Klaim bahwa serangan diluncurkan dari negara-negara Teluk sudah tidak dapat diterima ataupun realistis," kata al-Shayji.
Ia mengatakan pemerintah negara-negara Teluk telah menyampaikan kepada Iran bahwa pasukan AS yang berada di kawasan hanya bertugas untuk kepentingan pertahanan, bukan sebagai pangkalan ofensif.
Al-Shayji juga menegaskan Iran tidak pernah menunjukkan bukti yang mendukung tuduhannya tersebut.
Iran Dinilai Sengaja Hindari Korban Militer AS
Menurut al-Shayji, Iran memahami risiko besar apabila berhasil membunuh personel militer AS melalui serangan terhadap kapal induk atau kapal perang Amerika.
Karena itu, Teheran memilih menyerang negara-negara Teluk dengan harapan mereka akan menekan Washington agar segera mengakhiri perang. Meski demikian, strategi tersebut dinilai tidak efektif.
"Trump tidak berkonsultasi dengan negara-negara Teluk sebelum meluncurkan perang ini dan tidak mematuhi kesepakatan yang pernah dibuat," ungkapnya.
Ia juga mengkritik serangan Iran terhadap fasilitas desalinasi air di Kuwait yang dilakukan saat musim panas. Menurutnya, langkah tersebut melanggar hukum internasional karena langsung memengaruhi kebutuhan dasar masyarakat sipil.
Pakar Qatar: Iran dan AS Sama-sama Menahan Diri
Asisten Profesor Hubungan Internasional Universitas Qatar Abdullah Bandar al-Otaibi menilai baik Iran maupun AS sebenarnya tidak menginginkan perang berskala penuh.
Menurutnya, kedua negara sama-sama memilih target secara selektif agar konflik tidak berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Al-Otaibi mengatakan Iran menghindari serangan terhadap kapal induk AS karena khawatir akan menghadapi konsekuensi yang sangat besar.
"Iran menghindari menyerang aset angkatan laut AS karena khawatir membuka pintu neraka bagi dirinya sendiri," katanya.
Ia juga menilai Iran sengaja lebih banyak menyerang negara-negara Teluk karena meyakini negara-negara tersebut kecil kemungkinan akan terlibat langsung dalam perang.
Namun, ia mengingatkan situasi dapat berubah drastis apabila serangan Iran menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar di kawasan Teluk.
Diketahui, perang terbaru antara AS dan Iran dimulai setelah Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer bersama Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Meski kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman pada Juni untuk memperpanjang gencatan senjata dan melanjutkan perundingan damai, masing-masing pihak terus saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut.
Al-Shayji menilai jalan diplomasi tetap menjadi solusi terbaik untuk mencegah konflik semakin meluas. Ia mendorong negara-negara Teluk memperkuat koordinasi keamanan regional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap perlindungan militer AS agar kawasan tidak terseret ke perang yang lebih besar.
Sementara itu, al-Otaibi menilai tekanan terhadap Iran semakin meningkat karena kelompok Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran di Irak sejauh ini belum terlibat aktif dalam konfrontasi terbaru tersebut.