JawaPos.com - Nyaris 100 personel militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan terluka akibat serangan balasan Iran selama dua pekan terakhir.
Data terbaru yang diungkap Pentagon menunjukkan sebagian besar korban mengalami gegar otak ringan.
Meski demikian, mayoritas di antaranya telah kembali bertugas meski konflik antara Washington dan Teheran terus memanas.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan hampir seluruh korban hanya mengalami cedera ringan.
Ia menyebut sekitar 96 persen personel yang terluka kini sudah kembali menjalankan tugas militernya.
"Mayoritas mengalami gegar otak ringan dan 96 persen di antaranya telah kembali bekerja," kata Parnell dikutip via Guardian.
Pernyataan itu disampaikan untuk menanggapi laporan The New York Times yang menyebut Pentagon diduga menahan informasi mengenai jumlah tentara AS yang terluka akibat serangan Iran.
Parnell membantah tuduhan tersebut dan menegaskan Departemen Pertahanan AS tidak pernah menyembunyikan data korban.
Pengungkapan jumlah korban tersebut menjadi gambaran terbaru mengenai besarnya dampak serangan balasan Iran terhadap pasukan AS yang ditempatkan di berbagai pangkalan militer di Timur Tengah.
Baca Juga: Rudal Jelajah Iran Dilaporkan Hantam Infrastruktur Data Amazon di Bahrain
Meski sebagian besar korban telah pulih, angka hampir 100 personel yang terluka diperkirakan akan memicu perhatian lebih besar terhadap efektivitas perlindungan pasukan AS di kawasan.
Di tengah konflik yang memasuki malam ke-10, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika, termasuk sistem pertahanan udara dan instalasi radar di Bahrain serta Kuwait.
Sebagai respons, Kuwait, Bahrain, dan Yordania mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan yang datang.
Korban di pihak AS tidak hanya berupa personel yang mengalami luka. Dalam sepekan terakhir, tiga tentara Amerika juga dilaporkan tewas saat bertugas di Yordania dan Irak, menambah daftar korban sejak konflik kembali meningkat.
Serangan-serangan Iran merupakan balasan atas gelombang serangan udara yang dilancarkan AS terhadap berbagai target di wilayah Iran.
Baca Juga: Serangan AS Masuk Malam ke-10, Iran Balas Serang Pangkalan Militer dan Kapal Tanker di Selat Hormuz
Namun, setelah 10 malam serangan berturut-turut, operasi militer Washington belum mampu memaksa Teheran melonggarkan penguasaannya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia.
Ketegangan yang terus meningkat juga memperbesar risiko bagi pasukan AS yang masih ditempatkan di berbagai negara Teluk.
Dengan serangan balasan Iran yang terus berlangsung, keselamatan personel militer Amerika di kawasan diperkirakan akan menjadi salah satu sorotan utama dalam perkembangan konflik selanjutnya.