← Beranda
Belanda Percepat Transformasi Angkatan Laut dengan Robot, AI, dan Armada Nirawak
Mellyna Putri DiniarSabtu, 18 Juli 2026 | 21.08 WIB
Personel Angkatan Laut Kerajaan Belanda mengoperasikan drone dalam uji coba sistem nirawak di pesisir utara Belanda (The Guardian)

 

JawaPos.com - Perlombaan teknologi kini tidak lagi hanya berlangsung di pusat pengembangan kecerdasan buatan (AI) atau industri antariksa. Di sektor pertahanan, Belanda tengah mempercepat transformasi angkatan lautnya dengan memadukan kapal nirawak, drone, robot bawah laut, dan AI dalam satu sistem operasi terpadu. Transformasi tersebut dipimpin Angkatan Laut Kerajaan Belanda melalui serangkaian uji coba selama lima pekan di perairan Den Helder. 

Dalam simulasi itu, kapal nirawak Defender 1 dan Defender 2, drone udara Noa, serta robot pemetaan ranjau bawah laut beroperasi secara bersamaan mengawasi sasaran tanpa membawa awak manusia. Seluruh sistem dikendalikan melalui jaringan komando terintegrasi sehingga berbagai platform baru dapat ditambahkan seiring perkembangan teknologi.

Dilansir dari The Guardian, Sabtu (18/7/2026), Kepala Pusat Keahlian Sistem Nirawak Angkatan Laut Belanda, Kapten Sjoerd Feenstra, mengatakan organisasinya tengah melakukan perubahan mendasar. "Selama satu setengah tahun terakhir kami bekerja mengubah organisasi. Sekitar 10 tahun lagi, platform berawak akan dikelilingi oleh sistem-sistem nirawak yang dapat beroperasi secara mandiri dengan tingkat otonomi setinggi mungkin."

Baca Juga: Buffett: Perlombaan AI Memaksa Raksasa Teknologi Bermain di Arena yang Tak Mereka Inginkan

Perubahan itu juga tercermin dalam kebijakan anggaran pertahanan Belanda. Pemerintah menargetkan lebih dari separuh operasi militernya dalam lima tahun mendatang melibatkan sistem nirawak. Tren serupa juga terjadi di Inggris yang berencana menggelontorkan lebih dari £5 miliar atau sekitar Rp 121,2 triliun (dengan kurs Rp24.240 per poundsterling) untuk pengembangan teknologi tersebut dalam periode yang sama.

Pusat pengujian teknologi itu berada di kapal GeoSea, yang sebelumnya digunakan untuk memantau dasar laut di sekitar ladang angin lepas pantai. Kini kapal tersebut menjadi basis pengoperasian drone Noa, kapal nirawak Defender, serta robot Lobster Robotics untuk memetakan ranjau bawah laut.

Seluruh perangkat itu dirancang sebagai jaringan berbagai sistem yang saling terintegrasi, sehingga model atau teknologi baru dapat ditambahkan maupun diganti tanpa perlu membangun ulang keseluruhan sistem operasi.

Menurut Feenstra, penggunaan sistem nirawak bukan sekadar mengikuti tren teknologi. "Tujuannya adalah melakukan sebanyak mungkin pekerjaan dengan sistem nirawak agar manusia tidak berada di zona berbahaya," katanya.

Menurutnya, tuntutan kecepatan, kapasitas, dan besarnya volume informasi membuat pekerjaan semakin kompleks, sementara sebagian tugas pengawasan juga sangat monoton jika terus dilakukan manusia.

Dalam praktiknya, ketika muncul perintah untuk memantau sebuah kapal, dua kapal Defender segera bergerak, dua drone Noa berbahan serat karbon diterbangkan, sementara satu drone lain yang menyerupai kelelawar raksasa terbang di ketinggian untuk memperluas cakupan pengawasan. 

Meski demikian, integrasi AI tetap memiliki risiko. Pemimpin Integrasi Perangkat Lunak, Ferdinand Peters, mengingatkan, "Kita harus membiarkan sistem bekerja untuk membantu kita, tetapi bukan berpikir menggantikan kita. Kita harus benar-benar mempertimbangkan kapan AI digunakan dan kapan tidak."

Karena itu, Angkatan Laut Belanda menegaskan keputusan penggunaan kekuatan mematikan tetap berada di tangan manusia. "Manusia selalu menjadi bagian dari rantai pengambilan keputusan," kata Feenstra.

Dia juga mengingatkan bahwa pertanyaan etika bukan hal baru karena Belanda telah mengoperasikan sistem pertahanan udara Goalkeeper yang mampu bekerja secara otonom selama lebih dari 40 tahun. 

"Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa meski manusia menyusun rencana atau mengumpulkan informasi, kesalahan tetap bisa terjadi. Pertanyaannya adalah siapa yang bertanggung jawab jika semuanya diotomatisasi," ujarnya.

Analis angkatan laut Lee Willett menilai Belanda berhasil tampil melampaui ukuran negaranya dalam inovasi pertahanan maritim. Menurutnya, negara itu memahami bahwa mereka memiliki angkatan laut yang relatif kecil, tetapi berada di kawasan strategis Laut Utara dan Baltik sehingga membutuhkan teknologi sebagai pengganda kekuatan. 

Sementara itu, peneliti senior Royal United Services Institute (RUSI), Sidharth Kaushal, mengatakan sistem nirawak juga mengurangi penugasan panjang di laut.

"Sistem nirawak tidak sepenuhnya menghilangkan kebutuhan tenaga manusia, tetapi menciptakan keseimbangan baru. Inilah arah perkembangan yang sedang dituju," katanya.

Baca Juga: Pat Gelsinger Bongkar Akar Krisis Intel: Saat Keputusan Bisnis Mengalahkan Investasi Teknologi Jangka Panjang

EDITOR: Candra Mega Sari