JawaPos.com - Pemerintah Indonesia memastikan hingga saat ini belum ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban langsung akibat meningkatnya konflik Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, aktivitas jamaah umrah asal Indonesia di tanah suci juga dilaporkan tetap berjalan normal tanpa gangguan penerbangan maupun penutupan bandara.
Kepastian tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arrmanatha Nasir usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/7).
“Sampai saat ini belum ada laporan dampak langsung kepada para WNI dalam artian yang cedera atau yang mengalami luka-luka,” kata Arrmanatha, dikutip dari ANTARA.
Ia menjelaskan Kementerian Luar Negeri bersama seluruh perwakilan RI di kawasan Timur Tengah terus meningkatkan koordinasi dan pemantauan situasi keamanan sebagai langkah antisipasi di tengah memanasnya konflik.
Menurut Arrmanatha, setiap Kedutaan Besar RI dan perwakilan Indonesia di negara-negara kawasan secara rutin mengirimkan laporan perkembangan keamanan.
Termasuk kondisi WNI yang tinggal maupun sedang melakukan perjalanan di wilayah masing-masing.
“Laporan tersebut langsung disampaikan kepada bapak menteri luar negeri, melalui suatu grup yang bisa membantu mereka melapor setiap saat,” lanjutnya.
Jamaah Umrah Indonesia Dipastikan Tetap Aman
Selain memantau kondisi WNI, pemerintah juga memastikan jamaah umrah asal Indonesia di tanah suci tidak terdampak eskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Iran Batalkan Kesepakatan Damai Usai Serangan AS, Teheran Sebut Konflik Jadi Perang Eksistensial
Arrmanatha mengatakan, hingga kini belum ada laporan mengenai jamaah umrah Indonesia yang mengalami kendala akibat penutupan bandara atau gangguan operasional penerbangan.
Untuk memastikan kondisi tersebut, perwakilan RI di sejumlah negara Timur Tengah telah menugaskan pejabat terkait untuk memantau langsung keberadaan para jamaah. Serta memastikan seluruh rangkaian ibadah mereka berlangsung seperti biasa.
Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Peningkatan kewaspadaan pemerintah dilakukan setelah hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Militer AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran, dengan alasan melemahkan kemampuan Teheran dalam mengancam kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Selain operasi militer tersebut, AS juga kembali memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan mengerahkan lebih dari 20 kapal perang serta ratusan pesawat militer sebagai bagian dari blokade laut terhadap Iran.
Baca Juga: Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara usai Ledakan Guncang di Sejumlah Wilayah Teheran
Situasi ini menandai meningkatnya kembali ketegangan kedua negara, meski sebelumnya sempat ada nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik dan membuka peluang menuju penyelesaian yang lebih permanen.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa mengklaim telah menghancurkan sejumlah persenjataan dan pesawat nirawak milik Amerika Serikat dalam serangan yang terjadi di Bahrain dan Kuwait.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga membatalkan rencana penerapan tarif 20 persen terhadap setiap kapal pengangkut kargo yang melintasi Selat Hormuz setelah menerima komitmen investasi dari sejumlah negara Arab.