JawaPos.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia menegaskan Israel siap memberikan balasan yang jauh lebih besar apabila Teheran kembali melancarkan serangan ke wilayahnya.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu setelah Iran kembali melancarkan serangan ke sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan, termasuk Yordania yang berbatasan langsung dengan Israel. Di saat bersamaan, konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga terus memanas dengan saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir.
Berbicara dalam sebuah konferensi di Kota Dimona, wilayah Negev, Selasa, Netanyahu menegaskan Israel telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi ancaman dari Iran.
"Kami siap untuk setiap skenario," kata Netanyahu.
Ia kemudian mengirim pesan langsung kepada para pemimpin Iran.
"Saya punya satu pesan untuk para pemimpin Iran: Jangan mengandalkan ketenangan jika Anda menyerang kami. Jangan berharap pengulangan dari apa yang terjadi sebelumnya, karena tidak akan ada pengulangan. Tanggapan sebelumnya cukup kuat, tetapi setiap upaya lebih lanjut untuk menyakiti kita akan disambut dengan tanggapan yang berbeda, jauh lebih kuat," ujarnya.
Netanyahu: Era Menyerang Israel Tanpa Konsekuensi Sudah Berakhir
Netanyahu menegaskan Israel tidak akan lagi membiarkan setiap serangan berlalu tanpa respons yang berat. Menurutnya, operasi militer Israel terhadap Iran sebelumnya telah menunjukkan kemampuan negaranya menghadapi ancaman yang disebutnya sebagai 'poros kejahatan' Iran.
"Hari-hari ketika seseorang bisa menyerang kita tanpa membayar harga yang mahal sudah berakhir," kata Netanyahu.
"Kami membuktikan hal itu dalam menghadapi poros kejahatan Iran, dan kami akan terus bertindak tegas terhadap siapa pun yang menyakiti kami. Begitulah cara kami bertindak, dan begitulah cara kami akan terus bertindak," lanjutnya.
Sebelumnya, Israel menyerang fasilitas petrokimia Iran di wilayah barat daya negara itu pada 8 Juni sebagai balasan atas serangan rudal Iran ke Israel. Gencatan senjata kemudian kembali diberlakukan tidak lama setelah Amerika Serikat mendorong kedua pihak menghentikan pertempuran.
Meski pekan lalu Iran sempat mengancam akan menyerang Israel apabila operasi militer Amerika Serikat terus berlanjut, hingga kini ancaman tersebut belum direalisasikan.
Konflik AS-Iran Meluas ke Negara-Negara Teluk
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan 'mengaktifkan kembali_ blokade terhadap Iran di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran menyerang Bahrain, Yordania, serta tiga kapal yang melintas di Selat Hormuz. Serangan tersebut menewaskan satu pelaut dan melukai delapan orang lainnya.
Dua kapal yang menjadi sasaran diketahui merupakan kapal tanker yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab. Peristiwa itu memicu ancaman balasan dari Abu Dhabi dan meningkatkan risiko meluasnya konflik ke negara-negara Teluk.
Sejumlah Kota Iran Diguncang Ledakan
Beberapa jam setelah Washington menyatakan telah mengakhiri kampanye serangannya, sejumlah ledakan kembali mengguncang wilayah Iran.
Kantor berita pemerintah IRNA melaporkan sedikitnya empat lokasi di Kota Bushehr, pesisir Teluk Persia, terkena serangan. Wakil Gubernur Provinsi Bushehr, Ehsan Jahanian, mengatakan proyektil musuh menghantam kota tersebut pada siang hari dan menuding Amerika Serikat berada di balik serangan itu.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan sedikitnya lima ledakan terdengar di sekitar Kota Bandar Abbas yang berada dekat Selat Hormuz.
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Pulau Qeshm. Kantor berita Fars menyebut kawasan Masan di pulau tersebut telah beberapa kali menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah lokal Qeshm juga menyatakan pulau itu terkena proyektil yang ditembakkan Amerika Serikat. Di sisi lain, Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah proyektil yang melintas di wilayah udaranya.
Sebelumnya diberitakan, di tengah meningkatnya ketegangan militer, Presiden Donald Trump juga mengubah kebijakan ekonominya terkait Selat Hormuz.
Trump membatalkan rencana mengenakan biaya 20 persen terhadap kapal-kapal kargo yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Sebagai gantinya, ia mengatakan negara-negara Teluk akan memperkuat hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat melalui investasi dan kerja sama perdagangan.