JawaPos.com - David Ellison kembali mengguncang industri hiburan global melalui kesepakatan akuisisi Warner Bros. Discovery senilai USD 81 miliar atau sekitar Rp1.467,7 triliun (kurs Rp18.120 per dolar AS).
Bagi CEO Paramount tersebut, transaksi ini merupakan upaya membangun konglomerasi media baru yang mengandalkan skala, teknologi, serta kekuatan katalog film dan layanan streaming untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat.
Namun, di balik ambisi tersebut, perusahaan gabungan diproyeksikan menanggung utang hampir USD 80 miliar atau sekitar Rp1.449,6 triliun. Beban itu berpotensi memengaruhi belanja konten, investasi streaming, hingga hak siar olahraga. Rasio utang bersih diperkirakan mencapai 6,5 kali EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi), level yang tergolong tinggi di industri media.
Dilansir dari The Wall Street Journal, Jumat (10/7/2026), Ellison tetap berusaha menepis kekhawatiran tersebut. Dalam pernyataannya, Paramount menegaskan, "Transaksi ini didasarkan pada pertumbuhan, bukan pemangkasan biaya. Kami akan terus mengurangi utang sambil tetap berinvestasi pada bisnis dan konten untuk jangka panjang."
Di sisi lain, analis MoffettNathanson menyebut tingkat utang perusahaan gabungan itu sebagai "sangat mencengangkan", sekaligus mempertanyakan optimisme manajemen.
Berbeda dengan strategi efisiensi agresif yang dijalankan CEO Warner Bros. Discovery sebelumnya, David Zaslav, Ellison berjanji tidak akan menjual aset maupun memangkas belanja konten.
Pada era Zaslav, ribuan karyawan diberhentikan dan sejumlah proyek film maupun serial televisi dibatalkan demi menurunkan utang perusahaan. Kini Ellison justru ingin mempertahankan investasi kreatif sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.
Meski demikian, ruang gerak perusahaan dinilai semakin sempit. Sejumlah eksekutif Warner, baik yang masih aktif maupun mantan pejabat perusahaan, menilai berbagai gelombang penghematan selama beberapa tahun terakhir telah menghilangkan sebagian besar peluang efisiensi yang mudah dicapai. Paramount sendiri juga telah beberapa kali melakukan pengurangan biaya, baik sebelum maupun sesudah diakuisisi Skydance.
Keberhasilan merger ini sangat bergantung pada realisasi sinergi senilai USD 6 miliar dalam tiga tahun. Penghematan itu diharapkan berasal dari penyatuan platform teknologi streaming, penghapusan fungsi bisnis yang tumpang tindih, serta restrukturisasi operasional yang diperkirakan tetap memicu pengurangan tenaga kerja. Setelah integrasi selesai, perusahaan menargetkan pendapatan tahunan sekitar USD 69 miliar dengan EBITDA sekitar USD 18 miliar serta anggaran konten melebihi USD 30 miliar.
Tantangan lain datang dari sumber pendapatan utama perusahaan. Jaringan televisi seperti CNN, CBS, MTV, dan Nickelodeon masih menghasilkan sekitar USD 35 miliar per tahun, tetapi bisnis televisi linear terus tertekan akibat tren pemutusan layanan televisi berbayar serta melemahnya pasar iklan. Moody's Ratings memperkirakan pendapatan sektor tersebut akan terus menyusut hampir 10 persen setiap tahun dalam beberapa waktu ke depan.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, Ellison bertaruh bahwa penggabungan Paramount+, Pluto TV, dan HBO Max akan menciptakan pesaing streaming yang lebih kuat sekaligus meningkatkan arus kas perusahaan. Namun Moody's mengingatkan, "Kami memperkirakan setidaknya dibutuhkan lima tahun hingga laba bisnis streaming mampu menyamai skala bisnis media televisi."
Sementara itu, proses akuisisi masih menunggu persetujuan regulator di Eropa meskipun telah memperoleh lampu hijau dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Di saat bersamaan, sejumlah negara bagian di AS juga dilaporkan tengah mempertimbangkan gugatan antimonopoli yang berpotensi memperlambat penyelesaian transaksi tersebut. Penundaan itu dapat meningkatkan biaya transaksi sekaligus memperbesar tekanan terhadap struktur utang perusahaan baru.
Bagi industri hiburan global, keberhasilan atau kegagalan David Ellison akan menjadi tolok ukur baru apakah strategi membangun konglomerasi media berskala raksasa masih relevan di era dominasi streaming. Jika target pertumbuhan tercapai, Hollywood memasuki babak baru. Sebaliknya, jika perhitungan meleset, beban utang senilai hampir Rp1.450 triliun berisiko menjadi penghalang terbesar bagi salah satu merger media paling ambisius dalam sejarah.