JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terhadap Iran.
Saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, Trump menyebut para pemimpin Iran sebagai 'orang sakit' (sick people) dan melabeli Iran sebagai 'sampah' (scum), sembari menegaskan dirinya tidak lagi ingin berurusan dengan Teheran.
Pernyataan keras itu disampaikan saat Trump menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah gencatan senjata dengan Iran masih berlaku.
"Aku pikir ini sudah berakhir. Aku tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka sampah. Kamu tahu apa itu sampah? Mereka sampah," kata Trump.
Trump kemudian melanjutkan kritiknya terhadap kepemimpinan Iran dengan menyebut para pemimpinnya sebagai "orang sakit" yang menurutnya tidak akan ragu menggunakan senjata nuklir jika memilikinya.
"Mereka orang-orang sakit. Mereka dipimpin oleh orang-orang sakit dan mereka adalah orang-orang yang jahat dan penuh kekerasan. Dan jika mereka memiliki senjata nuklir, mereka akan menggunakannya. Sejauh yang aku ketahui, ini sudah berakhir."
Meski menyatakan gencatan senjata telah berakhir, Trump mengatakan para negosiator Amerika Serikat masih ingin melanjutkan pembicaraan dengan Teheran.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Amerika Serikat sebelumnya melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 target Iran di sekitar Selat Hormuz serta mencabut keringanan sementara sanksi yang memungkinkan Iran mengekspor minyak.
Langkah itu diambil setelah Iran menyerang tiga kapal dagang pada Selasa.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga melontarkan kritik kepada NATO. Di hadapan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, ia mengaku kecewa karena sebagian besar negara anggota aliansi tidak memberikan dukungan yang diharapkan Amerika Serikat dalam menghadapi Iran.
Trump mengatakan negara-negara anggota NATO tidak ingin membantu Amerika Serikat menghadapi Iran yang ia sebut sebagai sponsor utama terorisme.
Pernyataan itu merujuk pada penolakan sebagian besar negara Eropa, kecuali Inggris, untuk mengizinkan pangkalan udara mereka digunakan dalam operasi pengeboman AS terhadap Iran.