← Beranda
Trump Kembali Bikin Geger NATO, Ngotot Greenland Harus Dikuasai Amerika
Rian AlfiantoRabu, 8 Juli 2026 | 23.50 WIB
Ilustrasi peta Greenland. (BBC)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi di tengah berlangsungnya KTT NATO setelah menegaskan bahwa Greenland seharusnya berada di bawah kendali Amerika Serikat, bukan Denmark.

Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap Trump yang kembali menantang sekutu lamanya di Eropa saat aliansi itu justru berupaya menjaga soliditas menghadapi ancaman global.

Dalam pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara, Selasa (7/7) waktu setempat, Trump menilai Greenland memiliki posisi strategis bagi keamanan Amerika Serikat. Ia juga mengulang klaim yang sebelumnya telah dibantah, yakni bahwa wilayah tersebut dikelilingi kapal-kapal China dan Rusia.

Baca Juga: 20 Tahun Vakum, Ria Resty Fauzy Comeback Lewat Single 'Rindu yang Menyiksa'

"Itu seharusnya dikendalikan oleh Amerika Serikat, bukan oleh Denmark," kata Trump kepada wartawan.

Dilansir via PBS, Trump menambahkan bahwa Greenland merupakan 'bagian yang penting' bagi kepentingan Amerika Serikat dan menegaskan dirinya tidak akan membiarkan pulau semiotonom tersebut menghadapi ancaman.

Pernyataan itu langsung menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan prinsip dasar NATO, yakni seluruh anggota saling melindungi wilayah masing-masing, bukan mengancam mengambil alih wilayah negara sekutu.

Di saat para pemimpin Eropa bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte berupaya menunjukkan kekompakan, termasuk melalui komitmen belanja pertahanan bernilai miliaran dolar, komentar Trump kembali memunculkan ketegangan di dalam aliansi.

Trump Cabut Sanksi untuk Turki

Baca Juga: Meta Rilis Muse Image, AI Baru yang Bisa Gunakan Foto Pengguna Instagram

Selain isu Greenland, Trump juga mengumumkan rencana mencabut sanksi Amerika Serikat terhadap Turki yang dijatuhkan setelah Ankara membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia pada 2019.

Pembelian sistem tersebut membuat Turki dikeluarkan dari program pesawat tempur siluman F-35 dan memicu ketegangan panjang dengan Washington.

Kini, Trump membuka peluang baru bagi Ankara. "Kami akan mencabut sanksi itu, oke?" ujar Trump.

Ia mengatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sedang menangani proses tersebut.

Trump juga mengungkapkan bahwa penjualan F-35 kepada Turki merupakan sesuatu yang akan dipertimbangkan mengingat hubungan kedua negara yang dinilainya sangat baik.

Baca Juga: Isu Selingkuh Lionel Messi Makin Santer, Kekasih Cristiano Ronaldo Beri Kado Spesial untuk Istri Kapten Argentina

"Turki, dalam banyak hal, jauh lebih setia dibandingkan negara-negara lain yang kami kira akan setia," kata Trump.

Hubungan Dekat Trump dan Erdogan

Hubungan pribadi Trump dan Erdogan kembali menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut. Erdogan menyambut Trump dengan upacara kenegaraan lengkap yang melibatkan pasukan berkuda serta atraksi pesawat yang mengeluarkan asap merah, putih, dan biru.

Saat ditanya mengenai kedekatan mereka, Trump menyebut hubungan keduanya dibangun atas kecocokan pribadi.

Baca Juga: PPATK Temukan Transaksi Judi Online Fantastis di Kalangan ASN Jawa Barat

"Ada chemistry yang bekerja di antara kami. Terkadang Anda justru akur dengan orang-orang yang paling keras, seperti dia," ujar Trump.

Erdogan pun menyampaikan harapannya agar Amerika Serikat benar-benar kembali menjual pesawat tempur F-35 kepada Turki. Ia mengatakan Trump selama ini selalu menepati janjinya.

Meski Trump berjanji mencabut sanksi, langkah Turki untuk kembali bergabung dalam program F-35 belum sepenuhnya terbuka.

Undang-undang Amerika Serikat masih membatasi penjualan pesawat tempur tersebut selama Turki tetap memiliki sistem rudal S-400 buatan Rusia. Selain itu, rencana tersebut juga mendapat penolakan dari sejumlah anggota Kongres AS.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengaku telah meminta Trump agar tidak menjual F-35 kepada Turki karena dinilai dapat mengganggu keseimbangan keamanan di kawasan.

"Ini bukan kekuatan untuk perdamaian dan stabilitas. Ketika Anda memberi mereka kekuatan itu, Anda akan melihat agresi yang mengikutinya," kata Netanyahu dalam wawancara dengan CNN.

Baca Juga: Prabowo dan PM India Narendra Modi Resmikan Kerja Sama Restorasi Candi Prambanan hingga 2036

Dengan kembali mengangkat isu Greenland sekaligus membuka peluang pemulihan kerja sama pertahanan dengan Turki, Trump sekali lagi menunjukkan pendekatan kebijakan luar negeri yang kerap berbeda dari pendahulunya.

Sikap tersebut diperkirakan akan terus menjadi tantangan bagi hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya di NATO maupun di Timur Tengah.

EDITOR: Bintang Pradewo