JawaPos.com - Gelombang otomatisasi di sektor konstruksi memasuki fase baru yang lebih konkret, ketika mesin-mesin otonom mulai mengambil peran inti dalam pembangunan infrastruktur energi yang menopang ekspansi kecerdasan buatan global. Di Louisiana bagian timur laut, robot konstruksi kini mengerjakan fondasi proyek energi surya berskala besar yang terhubung dengan kebutuhan daya pusat data AI Meta Hyperion.
Di kawasan berlumpur yang membentang lebih dari satu mil, perangkat berat tersebut bekerja dalam pola berulang menancapkan balok baja ke tanah sebagai bagian dari pembangunan sistem tenaga surya industri. Situasi ini mencerminkan perubahan mendasar dalam metode pembangunan infrastruktur digital yang kini harus bergerak secepat lonjakan permintaan komputasi AI.
Dilansir dari Business Insider, Kamis (2/7/2026), mesin-mesin seberat 72 ton itu telah dilengkapi perangkat lunak dan perangkat keras dari Built Robotics. Sistem tersebut memungkinkan alat berat beroperasi secara otonom hingga lebih dari 12 jam per hari, termasuk mengangkat dan menancapkan balok baja seberat 200 pon secara presisi dan berulang di lapangan.
Noah Ready-Campbell, pendiri sekaligus kepala eksekutif Built Robotics, menyebut proyek ini sebagai bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur energi untuk mendukung pusat data Meta Hyperion di Richland Parish.
Dia menegaskan, "Tekanan untuk membangun jaringan listrik dengan kecepatan seperti ini belum pernah kami lihat sebelumnya," ujarnya.
Fasilitas Hyperion sendiri dirancang sebagai kompleks komputasi berskala besar seluas sekitar 3.650 acre dengan kebutuhan daya awal mencapai 2 gigawatt. Namun, Built Robotics tidak berperan sebagai kontraktor langsung Meta, melainkan menjadi bagian dari ekosistem kontraktor yang mengerjakan infrastruktur energi pendukung proyek tersebut.
Di lapangan, sekitar 10 unit robot kini menangani lebih dari separuh pekerjaan pemancangan tiang, dengan kapasitas mendekati 1.000 tiang baja per hari. Dalam kondisi konvensional, volume pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga kerja tiga hingga empat kali lebih banyak, terutama untuk aktivitas fisik yang berulang dan memiliki tingkat risiko tinggi.
Ready-Campbell menggambarkan beratnya pekerjaan manual sebelum otomatisasi diterapkan. Dia mengatakan, "Pekerja pada dasarnya harus mengangkat setengah berat balok ini. Ini sangat berat bagi tubuh manusia." Dengan sistem otonom, seluruh proses itu kini diambil alih mesin sehingga pekerja tidak lagi bersentuhan langsung dengan material berat.
Selain efisiensi, teknologi ini juga membuka peluang operasi di lingkungan ekstrem. Lokasi proyek di Louisiana yang berlumpur hingga setinggi lutut manusia justru menjadi tempat ideal bagi robot, karena mesin tidak terpengaruh oleh kondisi medan.
"Robot tidak peduli dengan kondisi seperti ini," ujar Ready-Campbell.
Meski bekerja secara otonom, sistem tetap berada dalam pengawasan manusia yang berperan sebagai pengendali operasional, mengatur logistik, suplai material, serta memantau kinerja dari lokasi aman. Sistem kecerdasan buatan yang digunakan juga dirancang konservatif, sehingga akan langsung menghentikan operasi jika terdeteksi potensi keberadaan manusia di area kerja.
Di tengah kekurangan tenaga kerja konstruksi di Amerika Serikat yang diperkirakan mencapai ratusan ribu pekerja pada 2026, pendekatan ini dipandang sebagai respons terhadap tekanan struktural industri.
Namun menurut Ready-Campbell, perubahan ini bukan penggantian manusia oleh mesin, melainkan pergeseran peran tenaga kerja menuju pekerjaan yang lebih aman, terampil, dan terintegrasi dengan sistem otomatisasi dalam pembangunan infrastruktur era AI.
Baca Juga: Masuk Arena Robotaxi Global, Nvidia Siapkan Uji Layanan Mobil Otonom Level 4 pada 2027