JawaPos.com - Mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot resmi mendeklarasikan diri sebagai calon perdana menteri dan melancarkan serangan politik terbuka terhadap Benjamin Netanyahu. Dalam pidatonya, Eisenkot menyebut pemerintahan Netanyahu sebagai 'pemerintahan bencana' yang harus diakhiri pada Pemilu Israel mendatang.
Deklarasi tersebut semakin menambah tekanan terhadap Netanyahu yang belakangan juga mendapat kritik dari mantan Perdana Menteri Naftali Bennett.
Keduanya sama-sama menilai pemerintahan saat ini gagal mengelola negara, mulai dari persoalan keamanan hingga stabilitas politik.
"Pada Oktober, masa jabatan pemerintahan Oktober yang membawa bencana akan berakhir," kata Eisenkot dalam pidatonya pada Selasa (30/6) malam.
Baca Juga: Kurangi Beban Surabaya, Kemenhaj Siapkan Bandara Dhoho Kediri Jadi Embarkasi Haji 2027
Pemimpin Partai Yashar yang juga menjabat Kepala Staf Militer Israel pada 2015–2019 itu berjanji akan membentuk pemerintahan baru yang berani mengambil keputusan penting di bidang keamanan nasional, wajib militer, dan pendidikan.
Ia juga memastikan akan membentuk komisi penyelidikan negara untuk mengusut kegagalan intelijen Israel dalam mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Netanyahu Sudah Tak Mampu Kendalikan Pemerintah
Tekanan terhadap Netanyahu datang dari berbagai arah. Pada hari yang sama, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menuding Netanyahu sudah kehilangan kendali atas kabinetnya sendiri.
"Ia tidak mampu mengatur pemerintahannya sendiri," ujar Bennett.
Menurut Bennett, pengaruh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, serta partai-partai ultra-Ortodoks membuat Netanyahu tidak lagi leluasa memimpin pemerintahan.
"Sejak awal saya tidak akan mengizinkan Ben-Gvir masuk ke dalam pemerintahan saya," kata Bennett.
Ia menilai Netanyahu kini sepenuhnya bergantung pada mitra koalisinya sehingga tidak mampu lagi menertibkan para menteri.
Bennett juga menuduh pemerintahan Netanyahu telah memperburuk posisi Israel di panggung internasional. Menurutnya, pemerintah terus menciptakan 'luka yang ditimbulkan sendiri' terhadap citra Israel karena minimnya diplomasi publik selama konflik berlangsung.
Ia turut mengkritik berkepanjangannya perang di Gaza, Lebanon, dan meningkatnya ketegangan dengan Iran. Bennett menilai strategi tersebut justru menguras kekuatan nasional.
"Ketika konflik dibiarkan berlangsung begitu lama, hal itu menguras ekonomi kami dan menguras para tentara cadangan," ujarnya.
Menurut Bennett, operasi militer seharusnya dilakukan secara cepat dan intensif, bukan berlarut-larut hingga membebani negara.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026, meski sejumlah media lokal menyebut pemungutan suara berpeluang dimajukan menjadi 20 Oktober apabila tercapai kesepakatan dengan partai-partai ultra-Ortodoks.
Sejumlah survei menunjukkan Eisenkot mulai menjadi pesaing serius Netanyahu. Survei Maariv mencatat 34 persen warga Israel menganggap Eisenkot sebagai kandidat paling layak menjadi perdana menteri.
Sementara survei Channel 12 memproyeksikan Partai Yashar memperoleh 22 dari 120 kursi Knesset, hanya terpaut dua kursi dari Partai Likud yang dipimpin Netanyahu dengan proyeksi 24 kursi.
Hasil jajak pendapat tersebut mengindikasikan dominasi politik Netanyahu mulai menghadapi tantangan nyata menjelang pemilu.