JawaPos.com - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan mulai mereda lagi setelah kedua negara sepakat untuk menghentikan aksi saling serang yang sempat kembali memanas dalam beberapa hari terakhir.
Kesepakatan ini membuka peluang kapal-kapal dagang kembali melintasi Selat Hormuz secara aman sekaligus menghidupkan kembali jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik yang kembali memanas di akhir pekan kemarin.
Seorang pejabat AS yang dikutip CBS News, mitra BBC di Amerika Serikat, mengatakan Washington dan Teheran telah sepakat untuk 'stand down' atau menahan diri dari aksi militer lanjutan.
Baca Juga: Prancis Catat 1000 Kematian Lebih Banyak Akibat Cuaca Panas Ekstrem
Dengan demikian, kapal-kapal disebut dapat kembali melintas "secara bebas" di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Pejabat tersebut juga menyebut pembicaraan lanjutan antara kedua negara akan diteruskan guna mencari penyelesaian permanen atas konflik yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan bahwa mereka menyetujui penghentian serangan di kawasan Selat Hormuz.
Ketegangan Sempat Memicu Pelanggaran Gencatan Senjata
Kesepakatan terbaru ini muncul setelah kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
Pada 17 Juni lalu, AS dan Iran menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) berisi 14 poin. Salah satu poin utamanya adalah penghentian operasi militer secara segera dan permanen di seluruh medan konflik.
Dalam kesepakatan itu, Iran juga berkomitmen mengerahkan "upaya terbaik" untuk menjamin keselamatan pelayaran kapal-kapal komersial tanpa pungutan selama 60 hari.
Namun, gencatan senjata tersebut mulai goyah setelah terjadi serangkaian serangan baru dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan kembali meningkat pada Kamis ketika sebuah proyektil Iran menghantam kapal kargo yang sedang melintas di Selat Hormuz.
AS Balas Serangan, Iran Menargetkan Pangkalan Militer
Sebagai respons, Komando Pusat AS (Centcom) melancarkan sejumlah serangan terhadap beberapa target di Iran pada akhir pekan. Militer AS menyebut operasi itu sebagai respons langsung atas "agresi berkelanjutan" terhadap pelayaran komersial.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Sabtu. Meski demikian, pemerintah AS mengklaim seluruh serangan tersebut gagal mencapai sasaran sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.
Selat Hormuz memiliki peran vital sebagai jalur distribusi minyak dan gas dunia. Jalur ini sempat praktis ditutup oleh Teheran setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global sekaligus memicu kenaikan harga minyak dunia, sehingga perkembangan terbaru mengenai keamanan Selat Hormuz menjadi perhatian banyak negara.
Upaya Perdamaian di Lebanon Masih Diuji
Di tengah upaya meredakan konflik dengan Iran, AS juga memediasi penandatanganan kesepakatan kerangka kerja antara Israel dan Lebanon pada Jumat. Perjanjian itu ditujukan sebagai langkah awal menuju perdamaian jangka panjang.
Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan. Pemimpin kelompok Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menuduh pemerintah Lebanon telah mengorbankan kedaulatan negaranya.
Dua hari setelah kesepakatan ditandatangani, militer Israel mengumumkan telah menghancurkan sebuah terowongan sepanjang sekitar 200 meter di Lebanon selatan yang disebut digunakan Hizbullah untuk menyimpan ratusan senjata.
Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan AS telah diberi tahu sebelum operasi tersebut dilakukan.
Sementara itu, Teheran menegaskan bahwa penghentian permusuhan di Lebanon menjadi syarat penting agar kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas di kawasan Timur Tengah dapat benar-benar bertahan.