JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kembali naik pada perdagangan Senin (29/6) setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Kondisi ini memicu keraguan pasar atas arah kesepakatan damai kedua negara. Apakah benar-benar bisa berdamai atau sekadar lip service belaka.
Mengutip laman Investing, harga minyak mentah dunia WTI tercatat naik sebesar 1,24 persen ke level USD 70,10 per barel.
Sedangkan harga minyak pada kontrak berjangka Brent naik sebesar 0,96 persen ke level USD 73,32 per barel.
Baca Juga: Ketegangan di Selat Hormuz Mereda, Harga Minyak Brent & WTI Terkoreksi Tipis
Harga minyak Brent anjlok 10,6 persen sepanjang pekan lalu, menandai penurunan mingguan ketiga berturut-turut.
Pelemahan ini terjadi setelah pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat pada pekan lalu ke level tertinggi sejak konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pecah pada Februari.
Namun, lalu lintas pengiriman kembali melambat setelah serangan baru terhadap kapal-kapal di selat tersebut sejak Kamis, termasuk sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan Qatar.
Insiden tersebut memicu serangan balasan dari Amerika Serikat dan Iran, menjadi eskalasi terburuk sejak kedua negara menandatangani kesepakatan damai sementara.
"Pasar kemungkinan akan meninjau kembali asumsi bahwa pemulihan pasokan minyak dari Teluk Persia akan berlangsung cepat," tulis analis ANZ dalam sebuah catatan dikutip Reuters.
Baca Juga: Jalur Selat Hormuz Kembali Normal, Harga Minyak Mentah Dunia Terus Melandai
Di sisi lain, kenaikan harga minyak tertahan setelah Iran dan Amerika Serikat dilaporkan sepakat menghentikan sementara permusuhan di kawasan Teluk dan melanjutkan perundingan di Qatar terkait sengketa Selat Hormuz, menurut laporan Axios pada Minggu.
Sementara kantor berita internasional lain seperti Reuters belum dapat mengonfirmasi laporan tersebut.
Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura pada Jumat setelah aktivitas tersebut sempat terhenti hampir empat bulan.
Langkah itu menjadi bagian dari upaya produsen Timur Tengah mempercepat ekspor minyak dan gas setelah meningkatkan produksi menjelang tercapainya kesepakatan sementara.
"Meski kesepakatan AS-Iran menjadi titik balik bagi pasar minyak, arus pasokan fisik masih terhambat akibat antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, dan penghentian produksi," kata analis ANZ.
Baca Juga: Kejagung Beber 12 Kasus Besar, Dari Tata Kelola Minyak Mentah Sampai Korupsi Anggaran MBG
Menurut mereka, dibutuhkan waktu hingga akhir tahun sebelum pasokan kembali mendekati tingkat sebelum konflik.
Sementara itu, aktivitas pemuatan di terminal Ras Tanura tetap berlangsung meski sebuah helikopter milik Aramco jatuh pada Minggu di Ras Tanura, pesisir timur Arab Saudi di Teluk.
Kecelakaan tersebut menewaskan 14 orang, sementara penyebabnya masih belum diketahui, menurut kantor berita pemerintah.