← Beranda
Ancaman Trump Picu Aksi Walkout Iran, Negosiasi AS-Iran di Swiss Masuki Fase Sulit dan Penuh Ketegangan
Mellyna Putri DiniarSenin, 22 Juni 2026 | 20.11 WIB
JD Vance bertemu delegasi Pakistan menjelang dimulainya perundingan Amerika Serikat-Iran di Swiss yang dimediasi Qatar dan Pakistan (The Guardian)

JawaPos.com - Negosiasi berisiko tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss memasuki fase yang semakin rumit setelah delegasi Iran melakukan aksi keluar dari ruang perundingan sebagai bentuk protes terhadap serangkaian ancaman yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. 

Namun, meski sempat terganggu, proses diplomatik tersebut diperkirakan tetap berlanjut sepanjang pekan ini dengan dukungan mediasi Qatar dan Pakistan. Menurut laporan The Guardian, Ketegangan meningkat ketika Trump melalui media sosial dan sejumlah wawancara televisi mengancam akan melakukan serangan militer terhadap Iran serta melontarkan pernyataan yang dianggap mengancam keselamatan tim perunding Iran. 

Situasi tersebut muncul di tengah upaya kedua negara mencari jalan keluar atas sengketa terkait Selat Hormuz, program nuklir sipil Iran, serta konflik yang terus berlangsung di Lebanon.

Baca Juga: AS dan Iran Sepakati Peta Jalan Damai 60 Hari, Selat Hormuz Dibuka Kembali Usai Negosiasi Tegang

Dilansir dari The Guardian, Senin (22/6/2026), media pemerintah Iran menyebut perundingan telah memasuki "fase sulit" dan sempat dihentikan setelah munculnya "pesan menghina dari presiden Amerika Serikat." Delegasi Iran kemudian mengadakan pertemuan dengan mediator Qatar sebelum meninggalkan lokasi perundingan. Kendati demikian, negosiasi tingkat tinggi tetap berlangsung hingga dini hari Senin, sementara pembahasan teknis dijadwalkan berlanjut selama sisa pekan ini.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan apresiasi kepada Pakistan dan Qatar atas peran mereka dalam menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Menurutnya, kedua negara berhasil membantu menghasilkan kemajuan penting di tengah situasi yang sangat sensitif.

Dalam pernyataannya, Araghchi juga menekankan bahwa mekanisme pencegahan konflik yang disepakati terkait Lebanon akan menjadi ujian pertama atas pemahaman yang telah dicapai kedua pihak.

Qatar dan Pakistan dalam pernyataan bersama mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran sepakat membentuk jalur komunikasi langsung guna mencegah insiden di Selat Hormuz.

Selain itu, kedua pihak juga menyetujui pembentukan pusat koordinasi pencegahan konflik bersama pemerintah Lebanon untuk memastikan penghentian operasi militer dapat dipatuhi oleh seluruh pihak terkait.

Perundingan terbaru tersebut merupakan kelanjutan dari memorandum kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu. Kesepakatan itu dirancang untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi dasar bagi periode negosiasi selama 60 hari mengenai program nuklir sipil Iran.

Namun, suasana konstruktif yang sempat terbentuk berubah tegang setelah Trump melontarkan serangkaian ancaman yang dinilai bertentangan dengan semangat perjanjian, termasuk klausul nonagresi yang tercantum dalam memorandum tersebut.

Ketua delegasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka meremehkan tekanan dari Washington. "Apakah mereka tidak berpikir bahwa jika ancaman mereka efektif, mereka tidak akan berada dalam kondisi terdesak seperti sekarang? Kami sama sekali tidak memperhitungkan ancaman Amerika," ujarnya.

Meski demikian, delegasi Iran memutuskan melakukan walkout karena menghadapi tekanan politik domestik yang mengharuskan mereka menunjukkan sikap waspada terhadap tim negosiasi Trump.

Perbedaan pendekatan juga terlihat jelas di kubu Amerika Serikat. Ketika Trump mengadopsi nada konfrontatif, Wakil Presiden JD Vance justru berusaha menampilkan sikap lebih lunak. Vance mengatakan dirinya ditugaskan presiden untuk membuka lembaran baru dalam hubungan kedua negara.

"Yang diminta presiden kepada kami adalah membuka babak baru, mengubah hubungan kami dengan rakyat Iran, dan mengulurkan tangan persahabatan," katanya. 

Ia menambahkan bahwa Washington siap melakukan transformasi mendasar dalam hubungan bilateral apabila Iran bersedia menghentikan aktivitas yang dianggap memicu ketidakstabilan kawasan serta meninggalkan ambisi senjata nuklir dalam jangka panjang.

Perselisihan juga berkaitan dengan situasi di Lebanon. Iran kembali memberlakukan blokade di Selat Hormuz sebagai protes terhadap serangan Israel di Lebanon yang menurut Teheran melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Iran menilai Amerika Serikat membiarkan Israel mengabaikan memorandum yang sebelumnya ditandatangani Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Trump. Pada akhir pekan lalu, lebih dari 30 orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel di wilayah tengah dan selatan Lebanon.

Trump menanggapi langkah Iran dengan ancaman yang lebih keras. Dalam unggahannya di media sosial, ia menulis bahwa Iran harus segera menghentikan kelompok-kelompok yang didukungnya di Lebanon. 

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat mengambil alih Selat Hormuz jika diperlukan. Ia juga mengeluarkan pernyataan yang oleh Iran ditafsirkan sebagai ancaman terhadap keselamatan para negosiatornya. Akibatnya, Teheran mengajukan protes resmi kepada mediator dan meminta apa yang mereka sebut sebagai tindakan "perundungan" tersebut dihentikan.

Di sisi lain, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengeklaim blokade terbaru Iran belum memberikan dampak nyata terhadap lalu lintas pelayaran. Menurutnya, puluhan kapal tetap melintasi jalur tersebut selama akhir pekan. Namun, konsekuensi jangka panjang dari penutupan Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama karena jalur itu merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi global. 

Sementara itu, Iran menegaskan fokus utama perundingan harus mencakup gencatan senjata di Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekspor minyak Iran, serta pencairan aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri.

Di tengah dinamika tersebut, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga ikut memantau perkembangan perundingan. Namun, Teheran menegaskan pembahasan mengenai inspeksi fasilitas nuklirnya akan ditunda hingga sengketa terkait sanksi berhasil diselesaikan. 

Dengan berbagai isu strategis yang saling terkait, mulai dari keamanan kawasan, perdagangan energi dunia, hingga program nuklir Iran, keberhasilan atau kegagalan perundingan pekan ini diperkirakan akan memiliki dampak luas terhadap stabilitas geopolitik Timur Tengah dan pasar global.

Baca Juga: Iran-AS Rampungkan Draf Pelonggaran Sanksi Ekspor Minyak dalam Perundingan di Swiss

EDITOR: Candra Mega Sari