JawaPos.com - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza memasuki babak yang semakin kompleks. Di tengah upaya pemulihan pascagencatan senjata, ribuan jenazah yang diperkirakan masih terkubur di bawah puing-puing bangunan menghadapi risiko tidak pernah berhasil diidentifikasi.
Kondisi tersebut tidak hanya mengancam hak keluarga untuk mengetahui nasib kerabat mereka, tetapi juga menimbulkan tantangan besar bagi proses forensik dan kesehatan masyarakat di wilayah itu.
Masalah tersebut muncul seiring lambatnya proses evakuasi korban dari reruntuhan akibat keterbatasan alat berat dan akses ke lokasi terdampak. Selain itu, waktu yang terus berlalu memperbesar kemungkinan jenazah mengalami pembusukan lanjut hingga tinggal kerangka, sehingga menyulitkan proses identifikasi.
Dilansir dari The Guardian, Selasa (16/6/2026), Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross/ICRC) memperingatkan bahwa peluang mengidentifikasi ribuan warga Palestina yang masih tertimbun reruntuhan Gaza terus menyusut setiap hari.
Baca Juga: Investigasi Ungkap Israel Perluas Kendali Militer di Gaza, Lebanon, dan Suriah
Juru bicara ICRC di Yerusalem, Pat Griffiths, mengatakan, "Tidak diragukan lagi bahwa jenazah-jenazah ini dalam waktu dekat dapat menjadi sangat sulit diidentifikasi. Semakin lama jasad berada di bawah reruntuhan, semakin besar kemungkinan kondisinya telah membusuk berat, bahkan hanya menyisakan kerangka saat ditemukan."
Menurut Griffiths, keterlambatan pemulihan jenazah juga membuat para ahli forensik kehilangan berbagai bukti penting yang dapat membantu memastikan identitas korban. Selain kondisi fisik jenazah yang terus berubah, petunjuk lain seperti lokasi penemuan, barang pribadi, maupun keadaan di sekitar korban dapat hilang atau rusak akibat faktor lingkungan maupun aktivitas di lapangan.
Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober lalu, warga Palestina mulai membersihkan sekitar 61 juta ton puing bangunan di Gaza. Di bawah reruntuhan tersebut, otoritas kesehatan setempat memperkirakan sedikitnya 10.000 orang masih terkubur, sementara sebagian pakar memperkirakan jumlahnya dapat mencapai 14.000 korban.
Namun, tim penyelamat hingga kini sebagian besar hanya mengandalkan sekop, beliung, gerobak dorong, garpu tanah, cangkul, bahkan tangan kosong untuk melakukan pencarian. Berulang kali permintaan agar alat berat seperti ekskavator diizinkan masuk ke Gaza belum membuahkan hasil.
ICRC menilai akses terhadap alat berat sangat penting untuk mempercepat pencarian sekaligus menjaga integritas lokasi penemuan jenazah. Griffiths mengatakan, "Tim pencarian dan pemulihan membutuhkan akses ke seluruh lokasi yang diduga menyimpan jenazah manusia. Kami mengetahui bahwa sebagian besar peralatan tersebut masih hampir mustahil dibawa masuk ke Gaza saat ini, dan kami terus mendesak otoritas terkait agar mengizinkannya."
Para ahli forensik juga mengingatkan bahwa waktu merupakan musuh utama dalam proses identifikasi. Guru Besar Patologi Forensik Universitas Milan, Dr Cristina Cattaneo, menjelaskan, "Semakin banyak waktu berlalu, semakin kecil peluang identifikasi berhasil. Pada tahap awal, wajah dan ciri khas korban mungkin masih dikenali. Namun seiring waktu, karakteristik yang memungkinkan identifikasi yang andal perlahan menghilang."
Selain usia, jenis kelamin, tinggi badan, sidik jari, rekam gigi, dan barang pribadi, identifikasi juga bergantung pada kondisi lokasi penemuan. Jika jenazah berpindah tempat atau barang bukti rusak, proses tersebut menjadi jauh lebih rumit.
Kondisi lingkungan di Gaza memperburuk tantangan tersebut. Direktur Kedokteran Forensik Gaza, Dr Ahmed Dahir, mengungkapkan bahwa beberapa jenazah berubah menjadi kerangka hanya dalam hitungan pekan.
"Dalam beberapa kasus, kami terkejut mendapati seseorang yang baru dua minggu dilaporkan hilang telah tinggal tulang-belulang dengan bekas gigitan hewan. Dalam kondisi normal, proses seperti itu biasanya membutuhkan enam bulan hingga satu tahun," katanya.
Sementara itu, sejumlah saksi juga menyampaikan kekhawatiran bahwa penggunaan buldoser militer Israel di beberapa wilayah yang berada di bawah kendali Pasukan Pertahanan Israel berpotensi memindahkan jenazah yang masih tertimbun reruntuhan.
ICRC tidak secara khusus menyoroti pihak tertentu, tetapi menegaskan bahwa penggunaan alat berat dalam konflik bersenjata harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga martabat korban meninggal dan melindungi bukti yang diperlukan bagi identifikasi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sebuah kompleks pemakaman khusus didirikan di Deir al-Balah guna menampung jenazah tak dikenal yang ditemukan dari reruntuhan maupun lokasi pemakaman sementara lainnya. Setiap makam diberi nomor dan didokumentasikan dengan harapan suatu hari identitas korban dapat dipastikan dan jenazahnya diserahkan kepada keluarga.
Direktur Departemen Pemakaman Gaza, Ziad Obeid, mengatakan jumlah jenazah di lokasi itu telah melampaui 650 orang, sementara sebagian telah dimakamkan selama lebih dari dua tahun.
Situasi diperumit oleh keterbatasan fasilitas kesehatan di Gaza. Rumah sakit yang masih beroperasi tidak memiliki peralatan memadai untuk melakukan pengujian DNA, sementara bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan tersebut belum diizinkan masuk ke wilayah itu.
Menurut Cattaneo, materi genetik juga mengalami degradasi seiring waktu. "Perjalanan waktu turut memengaruhi DNA, meningkatkan risiko kerusakan dan membuat proses identifikasi menjadi semakin sulit. Kecocokan genetik yang mungkin cepat dan sangat andal beberapa pekan sebelumnya dapat berubah menjadi jauh lebih rumit setelah berbulan-bulan," ujarnya.
Bagi banyak keluarga, persoalan ini melampaui aspek administratif dan forensik. Para psikolog menggambarkan ketidakpastian mengenai nasib anggota keluarga sebagai "kehilangan ambigu", kondisi yang dapat memicu depresi, trauma, dan kebingungan identitas.
Saed al-Yazji, warga al-Mughraqa, mengaku belum mengetahui nasib adiknya, Sameh, yang hilang sejak 7 Oktober 2023. "Kami masih berharap ia hidup karena tidak pernah ada kepastian bahwa ia tewas atau ditahan. Ketidakpastian ini menghancurkan keluarga kami," katanya.
Kisah serupa dialami Wael Radwan dari Jabaliya yang kehilangan ayah dan saudaranya akibat serangan artileri pada 2024. Tanpa jenazah maupun akta kematian, anak-anak saudaranya bahkan belum dapat memperoleh bantuan bagi anak yatim.
Di tengah situasi itu, ICRC menegaskan bahwa ribuan keluarga di Gaza masih berhak mengetahui nasib orang-orang yang mereka cintai, dan waktu terus menjadi faktor yang menentukan apakah harapan tersebut dapat terwujud.
Baca Juga: Perayaan Idul Adha di Gaza Dibombardir Rudal oleh Zionis Israel, Korban Berguguran