← Beranda
Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai AS-Iran, Selat Hormuz Dibuka Kembali dan Blokade Laut Dicabut
Rian AlfiantoSenin, 15 Juni 2026 | 17.37 WIB
Donald Trump berbicara di Gedung Putih di Washington, DC, tak lama setelah insiden penembakan pada Makan Malam Koresponden Gedung Putih, Sabtu (25/4). (Deadline)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang mengakhiri permusuhan kedua negara. Kesepakatan tersebut juga membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz tanpa biaya tambahan serta mengakhiri blokade angkatan laut AS yang sebelumnya diberlakukan di kawasan strategis tersebut.

Pengumuman ini menjadi perkembangan paling signifikan dalam konflik yang memanas sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Desember lalu. Selain menghentikan operasi militer, kesepakatan ini diharapkan memulihkan arus perdagangan energi global yang sempat terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.

Trump menyampaikan kabar tersebut melalui platform Truth Social pada Minggu (14/6). Menurutnya, seluruh proses negosiasi telah selesai dan kedua pihak sepakat mengakhiri konflik.

"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang sudah selesai," tulis Trump.

Dalam pernyataan yang sama, ia mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut yang selama ini membatasi lalu lintas kapal.

"Selamat untuk semua! Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan bebas pulsa Selat Hormuz, dan, bersamaan dengan ini, mengizinkan penghapusan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal Dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!" ujar Trump.

Apa Dampak Kesepakatan Ini?

Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi poin paling krusial dari perjanjian tersebut. Jalur laut ini merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia. Dengan dibukanya kembali selat tersebut, distribusi minyak dan energi dari kawasan Timur Tengah diperkirakan kembali normal setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik.

Trump juga menilai kesepakatan ini dapat menjadi fondasi bagi stabilitas kawasan yang lebih luas.

"Kesepakatan Besar ini akan membawa Perdamaian dan Keamanan ke seluruh Wilayah," tulisnya dalam unggahan terpisah.

Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan lahirnya perjanjian perdamaian yang lebih komprehensif antara Washington dan Teheran dalam waktu dekat.

"Banyak presiden telah mencoba berdamai dengan Iran, dan semuanya telah gagal sebelum saya. Para Pemimpin Daerah, untuk pertama kalinya, telah menemukan seorang Presiden yang dapat membantu mereka mencapai Perdamaian yang sesungguhnya," kata Trump.

Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz setelah proses pembersihan ranjau laut akan memungkinkan aliran minyak kembali bergerak dari kedua arah dan memberikan manfaat bagi kawasan maupun ekonomi global.

Iran Konfirmasi Kesepakatan

Pernyataan Trump kemudian diperkuat oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi yang mengonfirmasi bahwa kesepakatan antara kedua negara memang telah dicapai.

Konfirmasi dari Teheran mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang selama beberapa hari terakhir mengenai kemungkinan tercapainya gencatan senjata setelah serangkaian kontak diplomatik intensif yang melibatkan sejumlah negara mediator.

Sebelum Trump mengumumkan kesepakatan tersebut, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif lebih dahulu menyampaikan kabar tercapainya perjanjian damai melalui media sosial X.

Sharif menyebut kesepakatan itu mencakup penghentian permanen operasi militer di seluruh medan konflik yang terkait, termasuk Lebanon.

"Setelah pembicaraan intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa Kesepakatan Perdamaian antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah DICAPAI. Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon," tulis Sharif.

Ia juga mengungkapkan bahwa upacara penandatanganan resmi akan digelar di Swiss pada 19 Juni mendatang. Pakistan, kata Sharif, berterima kasih kepada Amerika Serikat dan Iran karena memilih jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik yang berpotensi memperluas ketegangan di Timur Tengah.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah