JawaPos.com — Kanada menghadapi tekanan ganda dari disrupsi perdagangan global yang semakin dalam dan ketidakpastian iklim yang mulai mengganggu stabilitas rantai pasok pangan dunia. Kondisi ini mendorong pergeseran fokus dari sekadar produksi komoditas menuju penguasaan teknologi pertanian.
Darren Anderson, CEO sekaligus pendiri Vive Crop Protection, menilai keamanan pangan kini tidak lagi bisa dipisahkan dari kendali atas inovasi teknologi. Dalam konferensi Agri-Food Innovation Council di Ottawa pada akhir Mei, dia menegaskan bahwa perubahan struktur perdagangan global telah menggeser cara negara membangun dan mempertahankan daya tawar ekonominya.
Dilansir dari The Western Producer, Rabu (3/6/2026), Anderson menyebut sistem perdagangan global saat ini berada dalam fase transisi setelah melemahnya mekanisme multilateral. “Badan banding WTO (World Trade Organization/Organisasi Perdagangan Dunia) praktis tidak berfungsi sejak 2019. Wasit telah meninggalkan lapangan dan tidak ada yang memanggil mereka kembali. Itulah dunia yang kita hadapi sekarang,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa sistem perdagangan global kini bergeser ke pola bilateral yang lebih berbasis negosiasi langsung antarnegara. “Kita bergerak ke dunia bilateral, di mana semuanya ditentukan kesepakatan demi kesepakatan dan hubungan demi hubungan. Dalam kondisi seperti itu, posisi tawar menjadi sangat penting.”
Dalam situasi tersebut, Anderson menilai keunggulan negara tidak lagi ditentukan oleh volume produksi pangan semata, melainkan oleh penguasaan sistem produksi itu sendiri. Dia menyoroti bahwa negara-negara seperti Rusia, Brasil, Argentina, Ukraina, dan Australia juga memiliki kapasitas ekspor komoditas yang serupa dengan Kanada.
“Jika daya tawar Anda hanya karena Anda menanam gandum, pihak lain di meja perundingan juga memiliki banyak pilihan,” ujarnya.
Menurut Anderson, kekuatan strategis kini bergeser ke penguasaan teknologi produksi pangan, termasuk pertanian presisi berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem drone, input biologis, dan pengelolaan data pertanian. Dia menekankan bahwa nilai strategis tidak lagi berada pada efisiensi produksi, melainkan pada kontrol teknologi yang tidak mudah direplikasi oleh negara lain.
“Ini bukan lagi soal efisiensi atau sekadar meningkatkan output dari sumber daya yang ada. Ini soal kekuatan tawar strategis. Yang dipertaruhkan adalah apa yang Anda miliki yang tidak bisa diperoleh pihak lain di tempat lain,” katanya.
Anderson juga menyoroti ketergantungan Kanada terhadap pasokan input pertanian dari luar negeri, termasuk Tiongkok dan India. Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan risiko struktural dalam sistem ketahanan pangan nasional.
“Kita menanam makanan, tetapi sebagian besar input yang dibutuhkan untuk memproduksinya dikendalikan pihak lain,” ujarnya, seraya menekankan bahwa keamanan pangan pada dasarnya adalah keamanan nasional.
Sebagai ilustrasi, dia menyinggung tekanan perdagangan yang pernah terjadi pada produk kanola Kanada setelah kebijakan bea masuk dari Tiongkok, serta potensi risiko yang lebih luas jika akses terhadap produk perlindungan tanaman dibatasi lebih jauh.
Sementara itu, Anderson juga menilai lambatnya proses regulasi sebagai hambatan utama percepatan inovasi sektor pertanian di Kanada, dan mendorong pembentukan sistem pengakuan regulasi lintas negara yang lebih terintegrasi.
Dia lalu mengusulkan model “hub and spoke”, sebuah sistem jaringan di mana satu negara menjadi pusat (hub) yang terhubung dengan negara mitra (spoke) dalam pengakuan regulasi, sehingga persetujuan produk di Kanada dapat berlaku di negara lain, dan sebaliknya.
“Jika Anda memiliki persetujuan produk di Kanada, Anda juga mendapatkan persetujuan di negara-negara tersebut. Itulah yang mengubah posisi kita menjadi pusat jaringan,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan tersebut dapat mempercepat adopsi teknologi pertanian sekaligus memperkuat posisi Kanada dalam ekosistem inovasi global.
Anderson juga menyinggung reformasi regulasi di Brasil yang kini menjadi salah satu pasar utama teknologi pertanian berbasis biologis, setelah menyederhanakan proses perizinan dan mempercepat adopsi inovasi.
Dia kemudian menutup pernyataannya dengan menyerukan keterlibatan lebih besar pemerintah dan regulator dalam ekosistem inovasi. “Kita perlu menetapkan target yang ambisius, mendanai modernisasi, dan menempatkan inovator di meja perundingan. Regulasi harus menjadi yang tercepat dan paling efisien di dunia,” ujarnya.
Menurut Anderson, negara yang menguasai teknologi produksi pangan akan memiliki pengaruh ekonomi dan geopolitik yang lebih besar dalam satu dekade mendatang.