JawaPos.com - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai nota kesepahaman awal atau memorandum of understanding (MOU), untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sekaligus membuka jalan menuju negosiasi permanen mengakhiri perang kedua negara.
Kesepakatan ini disebut menjadi terobosan penting setelah beberapa pekan diplomasi berjalan alot dan diwarnai bentrokan militer terbatas di kawasan Teluk.
Sejumlah pejabat AS kepada Al Jazeera pada Kamis (28/5) waktu setempat menyebutkan, bahwa rancangan kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan akhir Presiden Donald Trump.
Jika disahkan, langkah ini berpotensi meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini mengganggu stabilitas Timur Tengah dan jalur perdagangan energi dunia.
Sementara itu, laporan Axios yang kemudian dikonfirmasi Gedung Putih menyebutkan bahwa salah satu poin utama dalam MOU itu adalah pembukaan akses bebas bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Selain itu, AS juga disebut akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam negosiasi karena jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling strategis di dunia. Iran sebelumnya mengklaim pengelolaan selat itu harus dilakukan bersama Oman karena berada di wilayah perairan kedua negara.
Namun Washington menolak segala bentuk kontrol Iran, termasuk wacana penerapan biaya atau tarif bagi kapal yang melintas.
Ketegangan terkait Selat Hormuz bahkan sempat memicu ancaman baru. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memperingatkan Oman bahwa negara tersebut dapat dikenai sanksi, apabila membantu penerapan pungutan terhadap kapal-kapal di jalur tersebut.
Meski demikian, Bessent enggan mengonfirmasi detail kesepakatan yang beredar. Ia menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Trump.
"Selalu merupakan kesalahan untuk mendahului presiden, jadi semuanya akan menjadi keputusan presiden," kata Bessent kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa Trump memiliki tiga syarat utama bagi Iran, yakni membuka kembali Selat Hormuz, menyerahkan stok uranium dengan pengayaan tinggi, serta menghentikan program nuklirnya.
Di sisi lain, Iran belum sepenuhnya membenarkan kabar tersebut. Kantor berita semi-resmi Tasnim mengutip sumber yang dekat dengan negosiasi dan membantah klaim bahwa kesepakatan final sudah tercapai.
“Jika teks memang telah difinalisasi, Iran akan mengumumkannya kepada mediator Pakistan dan kepada publik. Sampai saat itu, narasi dari sumber Barat mengenai finalisasi kesepakatan tidak valid,” demikian laporan Tasnim.
Isu nuklir tetap menjadi hambatan terbesar dalam perundingan. Dalam rancangan kesepakatan disebutkan Iran harus berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir.
Namun Teheran menegaskan bahwa komitmen tersebut sebenarnya sudah lama disampaikan secara terbuka. Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan negaranya tidak berniat memiliki senjata nuklir.
"Kami tidak terlibat dalam diplomasi dengan penghinaan," ujar Pezeshkian seperti dikutip kantor berita ISNA.
Iran selama ini bersikeras memiliki hak memperkaya uranium untuk kepentingan domestik karena hal tersebut tidak dilarang dalam Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT). Sebaliknya, Trump menuntut agar seluruh program nuklir Iran dibongkar total.
Selain persoalan nuklir, negosiasi juga dipersulit oleh tuntutan AS agar Iran membatasi produksi rudal dan drone. Teheran menolak pembicaraan terkait kebijakan pertahanannya.
Situasi kawasan semakin rumit akibat konflik yang masih berlangsung di Lebanon. Israel dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan serangan ke wilayah Lebanon selatan dan kembali membombardir Beirut pada Kamis, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu terakhir.
Baca Juga: Rancangan Kesepakatan Iran-AS Belum Final
Kelompok Hizbullah yang didukung Iran juga meningkatkan serangan drone terhadap pasukan Israel. Iran sebelumnya menegaskan bahwa setiap kesepakatan gencatan senjata harus mencakup situasi di Lebanon.
Sementara itu, pemerintah Lebanon juga dilaporkan tengah melakukan pembicaraan langsung dengan Israel untuk mengakhiri perang. Amerika Serikat sebelumnya menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata April lalu, meski Washington tetap mendukung dan memfasilitasi dialog kedua negara.
Meski kesepakatan awal AS-Iran ini membuka peluang deeskalasi konflik, sejumlah isu penting seperti pencabutan sanksi ekonomi AS terhadap Iran serta masa depan stok uranium Teheran masih harus dibahas dalam negosiasi lanjutan.