JawaPos.com - Persaingan kecerdasan buatan global kini bergerak melampaui chatbot dan media sosial. Setelah mendominasi industri digital, perusahaan teknologi dan jaringan filantropi miliarder Silicon Valley mulai mengarahkan investasi besar ke sektor biologi molekuler dan penemuan obat.
Salah satu dorongan terbaru muncul dari CEO Mark Zuckerberg bersama istrinya, Priscilla Chan, melalui Biohub yang meluncurkan model dunia biologi protein berbasis kecerdasan buatan untuk mempercepat riset medis.
Biohub, organisasi riset di bawah Chan Zuckerberg Initiative, pada Rabu (27/5), memperkenalkan sistem pemodelan protein berbasis AI yang dirancang untuk membantu ilmuwan memahami struktur biologis sekaligus menciptakan protein baru. Langkah tersebut memperlihatkan semakin kuatnya dorongan sektor teknologi memasuki industri ilmu hayati yang selama ini menjadi wilayah perusahaan farmasi dan laboratorium riset biomedis besar.
Dilansir dari Reuters, Kamis (28/5/2026), Biohub menyebut model itu dibangun menggunakan generasi keempat Evolutionary Scale Modeling (ESM), yakni sistem AI yang mempelajari jutaan urutan protein hasil evolusi untuk memahami cara kerja biologi protein. Protein sendiri merupakan mesin molekuler utama tubuh yang berfungsi membangun jaringan, menghasilkan energi, serta mengatur respons imun manusia.
Baca Juga: Meta Kembangkan Kloning AI Mark Zuckerberg untuk Jawab Pertanyaan 79.000 Karyawan secara Langsung
Meski demikian, menciptakan protein baru yang stabil dan efektif di dalam tubuh masih menjadi tantangan besar dalam pengembangan obat modern. Karena itu, perusahaan farmasi global kini semakin mengandalkan AI untuk mempercepat proses penelitian dan pengembangan terapi penyakit kompleks, termasuk kanker dan gangguan sistem imun.
Dalam wawancaranya dengan Reuters, Chan mengatakan model tersebut telah menunjukkan hasil awal yang menjanjikan. "Kami telah memverifikasi kemampuan model ini dan memvalidasi banyak prediksinya dalam kasus penyakit imun maupun kanker. Ini sangat menjanjikan," ujarnya.
Menurut Chan, Biohub berharap model-model tersebut dapat segera dimanfaatkan lebih luas oleh komunitas ilmiah global. "Kami berharap setelah model-model ini dirilis, pihak lain akan segera mengadopsinya untuk menangani berbagai persoalan yang mereka hadapi di laboratorium."
Biohub menjelaskan bahwa sistem tersebut terdiri atas model-model AI sumber terbuka yang dirancang agar dapat diakses lebih luas oleh komunitas ilmiah global. Para penelitinya bahkan telah menggunakan model tersebut untuk merancang protein pengikat baru bagi target kanker dan sistem imun yang dalam uji laboratorium mampu mengaktifkan kembali sel-sel imun tubuh.
Kepala sains Biohub, Alex Rives, mengatakan teknologi itu akan tersedia melalui sejumlah platform analisis biologis internasional.
"Kami bermitra dengan sejumlah organisasi yang menyediakan platform analisis biologis, dan model-model ini akan tersedia di sana," kata Rives kepada Reuters.
Dia juga menerangkan, “Kami juga memiliki platform biohub.ai yang memungkinkan peneliti menggunakan model ini di server kami. Kami akan menyediakan kredit komputasi untuk para peneliti."
Selain melalui Biohub, model tersebut juga akan tersedia di platform AWS Bio Discovery dan SandboxAQ. Ketersediaan akses terbuka dinilai penting karena komputasi AI biologis memerlukan infrastruktur mahal yang selama ini hanya dapat dijangkau perusahaan teknologi besar dan laboratorium elite.
Sementara itu, Chan Zuckerberg Initiative didirikan pada 2015 dan sejak November 2025 menyatukan seluruh proyek riset biomedisnya di bawah Biohub, termasuk setelah mengakuisisi startup AI-biologi EvolutionaryScale.
Sejak berdiri, Mark Zuckerberg dan Priscilla Chan telah menggelontorkan lebih dari USD 7 miliar atau sekitar Rp 124,81 triliun dengan kurs Rp 17.830 per dolar AS untuk kegiatan filantropi. Keduanya juga berkomitmen menyumbangkan 99 persen saham Meta mereka sepanjang hidup, terutama melalui Biohub.
Peluncuran model tersebut memperlihatkan pergeseran baru dalam persaingan AI global. Jika sebelumnya persaingan berpusat pada model bahasa dan platform digital, fokus baru kini bergerak ke laboratorium biologi. Di sektor inilah AI dipandang berpotensi mempercepat pencarian terapi kanker, penyakit imun, hingga pengembangan obat generasi baru di masa depan.