JawaPos.com - Sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah kembali menguat. Israel dilaporkan meningkatkan komunikasi strategis dengan Amerika Serikat terkait kemungkinan melanjutkan serangan militer ke Iran, di tengah mandeknya upaya diplomasi dan rapuhnya gencatan senjata.
Laporan Channel 12 menyebut Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, kini mempererat koordinasi dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper. Komunikasi tersebut difokuskan pada skenario aksi militer terhadap Iran jika situasi kembali memanas.
Berdasarkan penilaian militer, sejumlah infrastruktur penting Iran berpotensi menjadi sasaran jika serangan dilanjutkan. Target yang disebut mencakup jaringan energi, jalan raya, fasilitas baja, hingga cadangan minyak dan gas.
Koordinasi antara Washington dan Tel Aviv juga meliputi pemantauan terhadap upaya Iran memulihkan fasilitas strategisnya pascaserangan sebelumnya.
Di saat bersamaan, militer Israel meningkatkan status kesiagaan dan memperkuat sistem pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan babak baru konflik.
AS Pertimbangkan Serangan Terbatas
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran. Langkah ini disebut sebagai tekanan strategis untuk memaksa Teheran menyetujui kesepakatan terkait program nuklirnya.
Namun hingga kini, belum ada keputusan final terkait waktu maupun bentuk operasi militer yang akan diambil.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan belum puas dengan proposal Iran dalam perundingan damai. Ia menilai tuntutan Teheran masih sulit diterima, meski menegaskan lebih memilih menghindari eskalasi besar.
Iran: Siap Damai atau Lanjut Perang
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan sikap tegas. Wakil Menteri Luar Negeri menyatakan Teheran siap menghadapi dua kemungkinan: melanjutkan diplomasi atau kembali ke konflik terbuka.
“Iran siap untuk kedua jalur demi memastikan kepentingan dan keamanan nasionalnya,” tegas pejabat tersebut melalui penyiar nasional Islamic Republic of Iran Broadcasting sebagaimana diberitakan sebelumnya.
Namun Iran juga menegaskan sikap skeptis terhadap komitmen Amerika Serikat dalam jalur diplomasi.
Diketahui, konflik terbaru antara kedua pihak memuncak setelah serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Iran kemudian membalas dengan menyerang kepentingan sekutu AS di kawasan Teluk dan sempat menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Ketegangan sempat mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Pembicaraan lanjutan di Islamabad pada 11–12 April pun digelar, namun gagal menghasilkan kesepakatan permanen.
Situasi menjadi semakin tidak pasti setelah Presiden Trump memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu yang jelas, sesuai permintaan Pakistan.
Baca Juga: Menlu Araghchi Kritik Eropa karena Keliru soal Program Nuklir Iran
Di tengah situasi ini, Israel juga baru saja menerima 6.500 ton amunisi dan perlengkapan militer dari AS, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency. Pengiriman besar ini dinilai sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan menghadapi potensi eskalasi.
Sementara itu, Iran telah mengajukan proposal damai melalui jalur mediasi Pakistan, namun hingga kini belum mendapat respons positif dari Washington.