JawaPos.com - Perkembangan terbaru gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan situasi yang semakin genting. Di tengah perpanjangan jeda konflik oleh Presiden AS, Donald Trump sebelumnya, potensi Washington menerjunkan pasukan darat disebut mungkin terjadi.
Laporan terbaru dari The Guardian mengungkap skenario yang cukup mengkhawatirkan: potensi invasi darat Amerika ke Iran kian meningkat.
Langkah Trump memperpanjang gencatan senjata sebelumnya dimaksudkan memberi waktu bagi Iran menyusun proposal negosiasi. Namun di balik itu, dinamika militer di lapangan menunjukkan arah berbeda.
Alih-alih meredakan ketegangan, pemerintahan Trump dilaporkan terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, lebih dari 10.000 pasukan tambahan telah dikerahkan.
Kedatangan Boxer Amphibious Ready Group beserta unit Marinirnya pada akhir bulan ini semakin mempertegas kesiapan AS menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.
Direktur proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai langkah ini sebagai indikator serius.
“Jika kita melihat apa yang dilakukan Trump, bukan hanya apa yang ia katakan, maka invasi darat sangat mungkin terjadi,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama ini Trump cenderung menggunakan kekuatan militer yang telah dikerahkannya, sehingga risiko 'mission creep' atau perluasan operasi militer menjadi semakin besar.
Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Ketua parlemen sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran siap mengeluarkan 'kartu baru di medan perang' jika konflik kembali pecah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menegaskan negaranya tidak gentar menghadapi kemungkinan invasi darat.
“Kami menunggu mereka. Kami yakin bisa menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” katanya.
Iran Justru Diuntungkan Jika Perang Darat Terjadi?
Sejumlah analis menilai Iran justru berada pada posisi lebih kuat jika konflik bergeser ke perang darat. Pengalaman historis dalam Perang Iran-Irak menjadi fondasi strategi militer Teheran saat ini.
Profesor dari Georgetown University, Nader Hashemi, menyebut perang tersebut sebagai pengalaman penting yang membentuk cara pandang elite Iran terhadap ancaman Barat.
Baca Juga: Baru 3 Tahun, Mobil Listrik Honda Ini Sudah ‘Disuntik Mati’ Siapkan EV Murah Pengganti
Sementara analis dari University of Oxford, Ashkan Hashemipour, menilai Iran saat ini relatif unggul dalam konflik berbasis darat dibandingkan perang udara dan laut.
Jika invasi benar terjadi, Iran diperkirakan akan mengandalkan taktik perang asimetris melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij.
Struktur militer Iran telah disusun secara terdesentralisasi ke dalam 31 unit provinsi untuk mengantisipasi serangan besar dan menjaga kelangsungan komando.
Baca Juga: Industri Mobil Listrik Terbelah: Ada yang Gaspol, Ada yang Rem Mendadak
Selain itu, profesor politik dari University of Tennessee, Saeid Golkar, menjelaskan strategi ini sebagai upaya 'memecah Iran menjadi mosaik pertahanan' di mana setiap wilayah mampu bertahan secara mandiri.
Selain itu, pasukan reguler Iran (Artesh) juga disiapkan untuk memaksa AS menghadapi dua jenis perang sekaligus: konvensional dan gerilya.
Disebut juga kalau invasi darat ke Iran dinilai berisiko tinggi bagi AS, terutama dari sisi korban jiwa dan dampak politik domestik.
“Invasi darat kemungkinan besar akan menimbulkan korban signifikan di pihak AS, dan itu justru diharapkan Iran,” kata Vaez.
Ia juga menilai langkah tersebut bisa berbalik merugikan Trump secara politik, terutama jika perang berkepanjangan memicu kenaikan harga energi dan tekanan publik di dalam negeri.