← Beranda
Viral! Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus Kristus di Lebanon, Picu Kecaman Dunia
Mellyna Putri DiniarSenin, 20 April 2026 | 15.56 WIB
Seorang prajurit Israel Defense Forces (IDF) tampak menghancurkan patung Yesus Kristus di Lebanon selatan dalam gambar yang diunggah ke media sosial pada 19 April 2026 (The Times of Israel)

JawaPos.com - Gelombang kecaman internasional mencuat setelah beredarnya sebuah foto yang memperlihatkan seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus Kristus di wilayah Lebanon selatan. 

Gambar tersebut viral di media sosial dan memicu reaksi luas, terutama terkait dugaan pelanggaran terhadap simbol keagamaan di tengah konflik yang masih memanas di kawasan Timur Tengah.

Foto itu memperlihatkan seorang prajurit menggunakan palu besar untuk merusak patung Yesus yang berada di pinggiran Desa Debl, dekat perbatasan Israel. Aksi itu segera menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk aktivis, politisi, dan masyarakat sipil yang menilai tindakan itu sebagai bentuk penodaan simbol agama.

Dilansir dari Al Jazeera, Senin (20/4/2026), militer Israel mengonfirmasi keaslian foto yang telah ditonton lebih dari 5 juta kali di platform X tersebut. Dalam pernyataannya, pihak militer Israel menyebut bahwa gambar itu "menunjukkan seorang tentara yang sedang beroperasi di Lebanon selatan," yakni wilayah yang sejak bulan lalu menjadi lokasi operasi darat Israel. 

Baca Juga: Jumlah Korban Tewas Akibat Agresi Israel di Gaza Capai 72.549 Orang

Operasi itu berlangsung beriringan dengan serangan udara dalam eskalasi konflik kawasan yang turut melibatkan Iran serta mendapat dukungan dari Amerika Serikat (AS).

Lebih lanjut, pihak militer Israel menyatakan bahwa investigasi internal telah dibuka. Mereka menegaskan bahwa "langkah yang tepat akan diambil terhadap pihak yang terlibat sesuai dengan hasil penyelidikan." Pernyataan ini menunjukkan adanya pengakuan resmi sekaligus upaya meredam kritik internasional yang terus berkembang.

Sementara itu, reaksi keras datang dari kalangan politisi Palestina di Israel. Ayman Odeh, anggota parlemen Israel, melontarkan sindiran tajam melalui media sosial dengan nada sarkastik: "Kita tunggu saja apakah nantinya akan ada pernyataan resmi yang menyebut bahwa prajurit tersebut 'merasa terancam oleh sosok Yesus'." Pernyataan ini mencerminkan kritik terhadap narasi keamanan yang kerap digunakan dalam berbagai insiden serupa.

Senada dengan itu, Ahmad Tibi, seorang politisi Palestina yang juga anggota parlemen Israel (Knesset) menyampaikan kritik keras terhadap insiden tersebut. Dalam unggahannya di Facebook, ia menyoroti adanya pola tindakan yang dinilai berulang tanpa konsekuensi hukum: "Ketika perusakan masjid dan gereja di Gaza, hingga tindakan merendahkan rohaniwan Kristen di Yerusalem, dibiarkan tanpa pertanggungjawaban, maka tidak mengherankan jika ada yang merasa bebas merusak patung Yesus Kristus dan bahkan menyebarkannya ke publik."

Ia bahkan turut menyinggung kontroversi yang melibatkan Presiden AS Donald Trump, dengan mengatakan, "Mungkin para rasis ini juga belajar dari Donald Trump untuk menghina Yesus Kristus dan Paus Leo?"

Di sisi lain, kecaman tidak hanya datang dari aktor politik timur tengah, tetapi juga dari akademisi dan aktivis yang menyoroti pola serangan terhadap situs keagamaan. Banyak pengguna media sosial mempertanyakan apa yang mereka sebut sebagai "diamnya dunia Barat" terhadap insiden-insiden semacam ini. Ahmad Tibi menambahkan, "Ketika dunia Barat tetap diam, para rasis dan penjajah akan melangkah lebih jauh."

Selain itu, serangan terhadap situs keagamaan semacam ini bukanlah fenomena baru. Dalam perang di Gaza, pasukan Israel dilaporkan berulang kali menyerang masjid dan gereja. Selain itu, di Tepi Barat yang diduduki Israel, terdapat 45 masjid yang menjadi sasaran vandalisme atau serangan oleh pemukim sepanjang tahun lalu, menurut Kementerian Urusan Agama Palestina.

Lebih lanjut, laporan dari Religious Freedom Data Center mencatat setidaknya 201 insiden kekerasan terhadap umat Kristen antara Januari 2024 hingga September 2025. Mayoritas insiden tersebut terjadi di Kota Tua Yerusalem Timur, melibatkan berbagai bentuk pelecehan seperti meludah, penghinaan verbal, vandalisme, hingga serangan fisik terhadap rohaniwan dan individu yang menampilkan simbol Kristen.

Sementara itu, mengutip The Times of Israel, Senin (20/4/2026), Israel Defense Forces (IDF) menyatakan bahwa tindakan prajurit tersebut "sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang diharapkan dari pasukan Israel." Pihak militer Israel juga menegaskan bahwa investigasi tengah ditangani oleh Komando Utara melalui jalur komando internal. Mereka berjanji tindakan disipliner akan dijatuhkan sesuai dengan hasil penyelidikan.

Sebagai langkah tambahan, militer Israel juga menyatakan akan membantu komunitas Kristen setempat untuk memulihkan patung yang dirusak. Namun, langkah ini belum cukup meredakan kritik global yang menyoroti isu lebih luas, yakni perlindungan terhadap kebebasan beragama dan simbol-simbol suci di tengah konflik bersenjata yang semakin kompleks.

Insiden ini pada akhirnya memperkuat perdebatan global mengenai standar ganda dalam respons internasional terhadap pelanggaran simbol keagamaan. Di tengah eskalasi konflik geopolitik, kasus ini menjadi pengingat bahwa dimensi kultural dan religius tetap menjadi titik sensitif yang berpotensi memperdalam ketegangan lintas komunitas dan negara.

Baca Juga: Israel Tetapkan Garis Kuning di Lebanon, Terapkan Kebijakan yang Sama Seperti di Jalur Gaza

EDITOR: Candra Mega Sari