JawaPos.com – Militer Israel menyatakan telah menetapkan garis kuning di wilayah selatan Lebanon.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Minggu (19/4), kebijakan ini disebut serupa dengan langkah yang sebelumnya diterapkan di Jalur Gaza.
Pernyataan tersebut menandai pertama kalinya istilah itu digunakan dalam konteks Lebanon.
Dalam keterangan resmi, militer Israel menyebut pasukannya beroperasi di area selatan garis. Mereka mengklaim telah mengidentifikasi pihak yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Baca Juga: Iran Tegaskan Kendali Penuh atas Selat Hormuz, Trump Peringatkan Tak Akan Tunduk pada Pemerasan
Pihak militer juga menyatakan bahwa individu yang mendekati zona itu dianggap sebagai ancaman langsung.
Penetapan garis kuning terjadi tidak lama setelah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diberlakukan.
Kesepakatan itu baru berjalan selama beberapa hari sebelum muncul kebijakan baru ini. Situasi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di kawasan perbatasan.
Sebelumnya, konsep garis kuning telah diterapkan Israel di Jalur Gaza. Kebijakan membagi wilayah menjadi beberapa zona dengan tingkat pembatasan yang berbeda. Di wilayah tertentu, aktivitas warga sangat dibatasi oleh kehadiran militer.
Penerapan kebijakan serupa di Lebanon dinilai sebagai perluasan pendekatan militer Israel. Beberapa pihak melihat langkah ini sebagai upaya memperkuat kontrol keamanan di wilayah perbatasan. Namun, kebijakan itu juga memicu kritik dari berbagai kalangan internasional.
Di lapangan, serangan militer Israel dilaporkan masih terjadi di sejumlah wilayah selatan Lebanon. Beberapa kota mengalami serangan artileri di tengah berlangsungnya gencatan senjata. Kondisi ini menunjukkan bahwa situasi keamanan masih belum stabil.
Sementara itu, kelompok Hizbullah menegaskan bahwa gencatan senjata harus dipatuhi oleh kedua belah pihak. Mereka menyatakan siap merespons jika terjadi pelanggaran. Pernyataan ini menambah dinamika dalam hubungan kedua pihak.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa konflik di kawasan tersebut masih jauh dari penyelesaian. Penetapan garis kuning berpotensi memperpanjang ketegangan antara Israel dan Lebanon. Upaya diplomasi dinilai menjadi kunci untuk meredakan situasi yang terus memanas.
Baca Juga: Serangan Mematikan Terjadi di Lebanon: Tentara Prancis Tewas, UNIFIL Tuduh Hizbullah Pelakunya