JawaPos.com - Iran memastikan Selat Hormuz sudah terbuka bagi kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda, serta tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran terkait isu nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur vital perdagangan energi global itu aman dilalui.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur untuk semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata,” ujar Araghchi melalui akun X, Jumat (17/4).
Ia menambahkan, pelayaran tetap harus mengikuti rute terkoordinasi yang telah ditetapkan oleh otoritas pelabuhan dan maritim Iran.
Diketahui, kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon dicapai pada Kamis malam. Namun, implementasinya masih menyisakan tanda tanya, terutama terkait sikap kelompok bersenjata Hezbollah yang terlibat dalam konflik melawan invasi Israel di Lebanon selatan.
Seorang pejabat militer senior Iran menyebutkan bahwa hanya kapal nonmiliter yang diizinkan melintas, itupun dengan izin dari Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.
Sebelumnya, konflik yang dimulai sejak 28 Februari itu telah menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran sempat membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga memicu kekhawatiran global.
Selain itu, mengutip Al-Jazeera, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut mengonfirmasi bahwa Selat Hormuz kini sepenuhnya terbuka dan siap untuk bisnis. Namun, ia menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran masih akan diberlakukan.
Trump menyebut langkah itu sebagai strategi untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan dengan Washington guna mengakhiri perang.
“Iran telah setuju untuk tidak pernah menutup Selat Hormuz lagi. Ini tidak akan lagi digunakan sebagai senjata melawan dunia,” tulisnya di media sosial.
Meski demikian, perbedaan tajam masih terlihat. Trump juga mengklaim AS akan memperoleh seluruh stok uranium Iran tanpa imbalan finansial, merujuk pada apa yang ia sebut sebagai “nuclear dust”.
Namun demikian, media pemerintah Iran, Mizan, langsung membantah klaim tersebut.
“Tidak pernah ada negosiasi terkait transfer uranium Iran ke Amerika, dan tentu tidak ada kesepakatan dalam hal ini,” demikian laporan mereka.
Laporan dari Washington menyebutkan bahwa kecil kemungkinan AS akan mencabut blokade dalam waktu dekat. Pemerintahan Trump memandang tekanan militer sebagai alat tawar utama untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Jurnalis Al Jazeera, Alan Fisher, mengatakan bahwa pertanyaan besar saat ini adalah apa yang akan didapat Iran jika memenuhi tuntutan tersebut.
“Jika Iran memberikan jaminan signifikan, mereka tentu ingin imbalan yang setara,” ujarnya.
Di sisi lain, Trump juga menyatakan bahwa Israel dilarang melancarkan serangan ke Lebanon.
“Israel tidak akan lagi membombardir Lebanon. Mereka dilarang oleh Amerika Serikat. Cukup sudah,” tegasnya.
Namun, pasukan penjaga perdamaian PBB melaporkan masih adanya pelanggaran, termasuk aktivitas artileri dan pelanggaran wilayah udara di Lebanon selatan.
Baca Juga: Warga Kembali ke Pinggiran Beirut usai Gencatan Senjata Lebanon-Israel Berlaku
Berdasarkan kesepakatan yang dirilis Departemen Luar Negeri AS, Israel hanya diperbolehkan bertindak untuk membela diri dari ancaman langsung, bukan melakukan operasi ofensif. (*)