JawaPos.com - Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran di tengah eskalasi yang meningkat tampak tak akan berhenti pada pertemuan pertama.
Seperti dilansir dari Al Jazeera mengutip laporan Associated Press, babak negosiasi baru antara AS dan Iran mungkin akan diadakan pada Kamis, (16/4).
Pada negosiasi pertama, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa tim negosiasinya meninggalkan Pakistan setelah tidak mencapai kesepakatan dengan Iran setelah 21 jam negosiasi. Hal ini disampaikannya pada Minggu (12/4).
"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat," kata Vance kepada wartawan setelah pembicaraan berakhir seperti dikutip dari Reuters.
Baca Juga: Donald Trump Tantrum Lagi, Kali Ini Tuduh Media AS Sebarkan Hoaks soal Perang Iran
"Jadi kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa garis merah kami,” imbuhnya.
Vance mengatakan Iran telah memilih untuk tidak menerima persyaratan Amerika, termasuk untuk tidak membangun senjata nuklir.
Tak lama kemudian, Vance melambaikan tangan dari puncak tangga saat ia naik ke Air Force Two di Islamabad.
"Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir, dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir. Itulah tujuan utama presiden Amerika Serikat, dan itulah yang telah kita coba capai melalui negosiasi ini,” jelasnyam
Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengatakan bahwa tuntutan AS yang berlebihan telah menghambat tercapainya kesepakatan dan bahwa negosiasi telah berakhir.
Baca Juga: Trump Sebut Paus Leo XIV Liberal dan Tidak Tegas karena Menentang Serangan ke Iran
Sebelum Vance berbicara, pemerintah Iran dalam sebuah unggahan di X mengatakan bahwa negosiasi akan berlanjut dan para ahli teknis dari kedua belah pihak akan bertukar dokumen.
Pembicaraan di Islamabad adalah pertemuan langsung AS-Iran pertama dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.