JawaPos.com - Konflik verbal terkait perang Iran yang melibatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kian meluas.
Setelah melontarkan serangan verbal ke Paus Leo XIV, Trump ngamuk lagi dan kini melancarkan serangan terbuka terhadap media nasional AS yang memberitakan perang Iran.
Dalam unggahan terbarunya di media sosial, Trump secara khusus menyoroti pemberitaan The New York Times.
Ia menuding media tersebut menggiring opini publik dengan narasi yang dianggap menyesatkan terkait kondisi Iran pasca konflik.
Baca Juga: Trump Sebut Paus Leo XIV Liberal dan Tidak Tegas karena Menentang Serangan ke Iran
Trump bahkan mengklaim bahwa Iran telah mengalami kehancuran besar secara militer, namun laporan media justru memberikan gambaran yang berbeda.
“Jika masih ada yang membaca media itu, mereka akan mengira Iran sedang berada di posisi kuat. Padahal faktanya tidak seperti itu,” tulis Trump di media sosial pribadinya.
Pernyataan Trump juga bisa dibaca bukan sekadar kritik biasa. Ia kembali menghidupkan istilah 'fake news' untuk menilai kredibilitas media arus utama di Amerika Serikat.
Dalam narasinya, media AS disebut telah menyebarkan informasi yang tidak akurat dan merugikan negara.
Trump juga mempertanyakan etika jurnalistik, menuding media tertentu gagal menjaga integritas dalam menyampaikan fakta kepada publik.
Baca Juga: Blokade Laut Donald Trump Picu Lonjakan Harga Minyak hingga USD 103 per Barel
Nada serangan ini mencerminkan pola lama Trump yang kerap berseberangan dengan media, terutama saat isu yang diangkat berkaitan dengan kebijakan luar negeri dan militer.
Seperti sudah disinggung di atas, serangan terhadap media terjadi hanya berselang singkat setelah Trump melontarkan kritik tajam terhadap Paus Leo XIV.
Perseteruan dengan Paus Leo XIV
Dalam polemik sebelumnya, Trump menilai Paus terlalu politis dan tidak memahami realitas geopolitik, khususnya terkait konflik Iran.
Sebaliknya, Paus Leo menegaskan bahwa Gereja tidak berperan sebagai aktor politik, melainkan sebagai penjaga pesan moral dan perdamaian.
Ia juga menyatakan tidak gentar menghadapi tekanan atau kritik dari pihak mana pun. Termasuk Trump.
Baca Juga: Donald Trump Isyaratkan Kuba Jadi Target Berikutnya Usai Iran, Havana Siap Melawan
Rangkaian pernyataan ini memperlihatkan bagaimana Trump semakin agresif dalam merespons pihak-pihak yang dinilai berseberangan dengan narasi pemerintahannya.
Di tengah memanasnya situasi global, khususnya terkait Iran, konflik antara Trump, media, dan tokoh agama berpotensi memperkeruh suasana domestik di Amerika Serikat.
Pendukung Trump melihat serangan terhadap media sebagai upaya melawan bias informasi.
Namun di sisi lain, kritik tersebut juga memicu kekhawatiran akan meningkatnya polarisasi serta menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi pers.
Isu ini menjadi semakin sensitif karena terjadi di tengah konflik geopolitik yang membutuhkan kejelasan informasi dan stabilitas komunikasi publik.
Baca Juga: Paus Leo XIV 'Diserang' Donald Trump, PM Italia: Kata-kata Presiden Trump Tidak Dapat Diterima
Dengan retorika yang terus memanas, hubungan antara Gedung Putih, media, dan tokoh global diperkirakan akan tetap berada dalam ketegangan dalam waktu dekat.