JawaPos.com - Ketegangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian memicu kekhawatiran internasional. Di tengah ancaman blokade Selat Hormuz oleh Presiden Donald Trump, negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN menyerukan langkah damai melalui gencatan senjata permanen.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis para menteri luar negeri ASEAN pada Senin (13/4), kedua pihak didesak untuk kembali ke meja perundingan. Mereka menilai dialog adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.
“Kami mendorong Amerika Serikat dan Republik Islam Iran untuk melanjutkan negosiasi demi mengakhiri konflik secara permanen serta menciptakan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan,” demikian isi pernyataan tersebut.
Desakan ini muncul setelah pembicaraan terbaru antara AS dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan. Situasi semakin memanas usai Trump mengancam akan memblokade jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, rute vital yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
Langkah tersebut dinilai berisiko memperluas konflik yang kini memasuki pekan ketujuh. Selain itu, potensi gangguan pasokan minyak global juga dikhawatirkan memicu lonjakan harga energi dan tekanan ekonomi di berbagai negara.
ASEAN, yang banyak anggotanya bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, menilai stabilitas di Selat Hormuz sangat krusial. Oleh karena itu, mereka juga menekankan pentingnya menjaga jalur pelayaran tetap aman.
Selain mendorong negosiasi, ASEAN juga meminta agar gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya dapat dijalankan secara penuh dan efektif. Tujuannya untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa.
Tak hanya itu, negara-negara Asia Tenggara juga menyerukan pemulihan akses transportasi internasional di Selat Hormuz. Mereka menekankan pentingnya memastikan lalu lintas kapal dan pesawat tetap aman, lancar, dan tanpa hambatan.
Seruan ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik AS-Iran kini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga menjadi perhatian serius bagi negara-negara lain yang terdampak secara ekonomi dan geopolitik.
Dengan meningkatnya retorika militer dan ancaman blokade, tekanan terhadap kedua negara untuk menahan diri semakin besar. Komunitas internasional, termasuk ASEAN, kini berharap jalur diplomasi kembali diutamakan sebelum konflik berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Jika tidak segera mereda, ketegangan di Selat Hormuz berpotensi menjadi titik api baru yang mengguncang stabilitas global, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.