JawaPos.com - Menjelang dimulainya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan tegas terkait krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz.
Trump menegaskan bahwa jalur vital tersebut akan kembali dibuka 'dalam waktu dekat', bahkan jika tanpa kerja sama dari Iran.
“Kami akan membuka Teluk itu. Tidak akan mudah, tapi kami akan melakukannya,” ujarnya kepada wartawan.
Hormuz Masih Lumpuh, Dunia Terdampak
Meski gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran telah diumumkan, kondisi di Selat Hormuz masih jauh dari normal.
Data pelayaran menunjukkan hanya sekitar 22 kapal yang keluar dari selat sejak kesepakatan berlaku, jauh di bawah rata-rata sekitar 135 kapal per hari sebelum konflik.
Lebih dari 600 kapal, termasuk ratusan tanker minyak, dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk.
Baca Juga: Simalakama Negara Net Importir, Perlukah Pemerintah Menaikkan Harga BBM?
Analis energi menyebut situasi ini 'tidak berubah secara fundamental', dengan Iran tetap menjadi pengendali utama lalu lintas di jalur tersebut. Iran disebut mengatur 'koridor aman' bagi kapal tertentu, termasuk tanker miliknya sendiri dan sekutu.
Teheran juga dikabarkan berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintas, langkah yang langsung ditolak Washington. “Jika mereka melakukan itu, kami tidak akan membiarkannya terjadi,” tegas Trump.
Selain itu, melansir Al-Jazeera, Sabtu (11/4), Trump menegaskan bahwa fokus utama dalam negosiasi adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
“Tidak ada senjata nuklir, itu 99 persen dari kesepakatan,” ujarnya. Ia juga menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz akan terjadi secara otomatis jika kesepakatan tercapai.
Baca Juga: Kata Trump, Lebih Baik AS yang Pungut Tarif Lintas Selat Hormuz daripada Iran
Di tengah ketegangan ini, Wakil Presiden AS, JD Vance, juga dilaporlan telah tiba di Islamabad untuk memimpin negosiasi dengan delegasi Iran.
Pembicaraan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penyelesaian permanen konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah.
Namun, kedua pihak masih memiliki perbedaan tajam terkait isi dan implementasi proposal damai, termasuk rencana 10 poin yang diajukan Iran.