JawaPos.com - Menjelang negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Presiden AS Donald Trump melancarkan tekanan keras dengan ancaman yang diklaim belum pernah terjadi sebelumnya.
Trump secara terbuka memperingatkan bahwa Iran berisiko menghadapi kehancuran besar jika tidak memenuhi prasyarat utama, termasuk membuka kembali Selat Hormuz, sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyampaikan ancaman yang memicu kecaman luas.
“Sebuah peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah kembali lagi. Saya tidak ingin itu terjadi, tapi mungkin akan terjadi,” tulisnya.
Baca Juga: Negosiasi Damai AS-Iran Dimulai di Islamabad di Tengah Bayang-bayang Ketidakpercayaan
Pernyataan tersebut menjadi salah satu retorika paling keras dalam rangkaian tekanan Washington terhadap Teheran.
Trump juga sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran, termasuk jembatan, pembangkit listrik, hingga fasilitas minyak dan air, jika kesepakatan tidak tercapai.
Meski demikian, langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi tekanan maksimal untuk memaksa Iran segera mencapai kesepakatan.
Washington ingin memastikan bahwa risiko bagi Iran terlalu besar jika menolak kompromi, terutama menjelang perundingan yang akan digelar di Islamabad.
Meski demikian, laporan menyebutkan bahwa di balik pernyataan publik yang keras, terdapat kemajuan dalam komunikasi tidak langsung antara kedua pihak dalam 48 jam terakhir.
Baca Juga: Trump Panaskan Situasi, Siapkan Armada Perang Terbaik Jika Negosiasi dengan Iran Gagal
Sementara di sisi lain, Iran merespons ancaman tersebut dengan menuduh Trump berpotensi melakukan kejahatan perang jika ancaman itu direalisasikan.
Hingga kini, sikap resmi Teheran masih menunjukkan ketegasan dan belum banyak memberikan sinyal kompromi secara terbuka sembari proses perundingan di Islamabad yang digelar hari ini berlangsung.
Wakil Presiden AS, JD Vance yang juga hadir di Islamabad menyatakan bahwa pembicaraan akan berlangsung intens hingga batas waktu yang ditentukan.
“Saya berharap ini akan berujung pada hasil yang baik,” ujarnya dalam konferensi pers.
Vance juga menegaskan bahwa tim negosiasi AS siap melanjutkan dialog jika Iran menunjukkan itikad baik.
Baca Juga: Eks Pejabat Intelijen AS Peringatkan Risiko Sabotase Israel dalam Gencatan Senjata AS-Iran
Selain retorika, tekanan juga datang dalam bentuk aksi militer. Pasukan AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran di Pulau Kharg.
Pejabat AS menyebut serangan tersebut merupakan 'serangan ulang' terhadap target militer dan tidak diarahkan pada infrastruktur ekspor minyak.
Kini, negosiasi yang berlangsung di Islamabad kini menjadi titik krusial bagi masa depan konflik.
Di satu sisi, ada peluang untuk meredakan ketegangan melalui kesepakatan damai. Di sisi lain, tekanan ekstrem dari Washington berpotensi memperkeruh suasana sebelum perundingan dimulai.
Baca Juga: Serangan Israel ke Lebanon Picu Krisis Baru, Gencatan Senjata AS-Iran di Ambang Gagal