← Beranda
Eks Pejabat Intelijen AS Peringatkan Risiko Sabotase Israel dalam Gencatan Senjata AS-Iran
Rian AlfiantoJumat, 10 April 2026 | 17.00 WIB
Mantan Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional AS (NCTC), Joe Kent peringatkan upaya sabotase Israel dalam gencatan senjata AS-Iran. (Platform X)

JawaPos.com - Upaya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menghadapi tantangan serius.

Mantan Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional AS (NCTC), Joe Kent, memperingatkan adanya risiko sabotase dari pihak sekutu sendiri, khususnya Israel, yang dinilai dapat menggagalkan proses perdamaian.

Peringatan ini muncul di tengah situasi kawasan yang masih memanas, meski Presiden AS, Donald Trump, telah mengumumkan penundaan serangan terhadap Iran selama dua pekan untuk membuka ruang negosiasi.

Menurut Kent, dalam video yang dibagikan di platform X, langkah diplomatik ini sangat krusial bagi kepentingan domestik Amerika Serikat.

Baca Juga: Serangan Israel ke Lebanon Picu Krisis Baru, Gencatan Senjata AS-Iran di Ambang Gagal

Selain meredakan konflik militer, gencatan senjata juga diharapkan membuka kembali Selat Hormuz. jalur vital perdagangan global, serta menekan lonjakan harga energi.

Namun, ia menilai terdapat perbedaan kepentingan mendasar antara Washington dan Tel Aviv.

“Kita harus mengutamakan Amerika. Israel punya rekam jejak menargetkan proses perundingan dan melancarkan serangan strategis tepat saat kesepakatan damai sedang dibahas,” ujar Kent.

Ia menegaskan bahwa fokus utama AS adalah stabilitas kawasan dan pemulihan ekonomi, sementara Israel dinilai lebih mendorong upaya perubahan rezim di Iran.

Kent juga mengingatkan bahwa jika dinamika ini tidak dikendalikan, Amerika Serikat berpotensi kembali terseret dalam konflik panjang di Timur Tengah.

Baca Juga: PM Lebanon Telepon PM Pakistan, Minta Bantuan Stop Serangan Israel ke Beirut

Menurutnya, keterlibatan militer yang berlarut-larut justru dapat memperburuk situasi global dan memperkuat pihak-pihak yang berseberangan dengan kepentingan AS.

Sebagai langkah pencegahan, Kent mendesak pemerintah AS untuk mengevaluasi dukungan militernya kepada Israel, khususnya yang bersifat ofensif.

Ia menekankan perlunya pemisahan antara bantuan pertahanan dan bantuan untuk operasi militer agresif.

“Sudah saatnya berhenti mendanai operasi ofensif yang memicu eskalasi konflik global. Jika mereka ingin mempertahankan diri, itu hak mereka, tetapi tidak dengan menggunakan perangkat militer AS untuk menggagalkan kesepakatan damai kita,” tegasnya.

Kent juga menegaskan bahwa pendekatan 'America First' seharusnya mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi, bukan intervensi militer yang berkelanjutan.

Baca Juga: Spanyol Bersikap Keras Atas Israel yang Gempur Lebanon, Sekutu Barat Makin Terpecah

Menurutnya, keberhasilan sejati bagi Amerika adalah ketika pasukan dapat ditarik pulang, stabilitas global tercapai, dan ekonomi kembali pulih.

Peringatan ini datang di saat gencatan senjata AS-Iran masih sangat rapuh. Serangan Israel ke Lebanon yang terus berlangsung telah memicu kritik internasional dan memperbesar risiko gagalnya negosiasi.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, memperdalam perbedaan tafsir di antara para pihak.

Dengan berbagai tekanan, baik dari luar maupun dalam negeri, pemerintahan Trump kini menghadapi ujian besar dalam menjaga momentum perdamaian.

Jika kekhawatiran yang disampaikan Kent terbukti, maka ancaman terbesar terhadap kesepakatan damai bukan hanya datang dari musuh, tetapi juga dari sekutu sendiri.

Baca Juga: Rusia Kecam Serangan Israel ke Lebanon, Desak Gencatan Senjata AS-Iran Berlaku Regional

EDITOR: Bayu Putra