← Beranda
Gencatan Senjata Baru Hitungan Jam, Israel sudah Bombardir Lebanon: Ratusan Tewas, Perdamaian Terancam
Rian Alfianto• Kamis, 9 April 2026 | 17.45 WIB
Ilustrasi serangan terbaru Israel ke Lebanon. (Al-Jazeera)

JawaPos.com - Harapan perdamaian di Timur Tengah runtuh hanya dalam hitungan jam.

Setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menahan serangan selama dua pekan, Israel justru meluncurkan serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk ibu kota Beirut.

Serangan udara yang menghantam kawasan padat penduduk ini menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya, menurut otoritas setempat.

Serangan Terbesar Sejak Konflik Meletus

Kementerian Kesehatan Lebanon melalui Menteri Rakan Nassereddine menyebut situasi ini sebagai 'eskalasi berbahaya'.

Baca Juga: Iran ke AS: Gencatan Senjata, Atau Perang Berkelanjutan Melalui Israel!

“Ambulans masih mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak bantuan internasional,” ujarnya.

Militer Israel mengkonfirmasi telah melancarkan lebih dari 100 serangan udara di berbagai wilayah, termasuk Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan serangan tersebut menargetkan infrastruktur milik Hezbollah.

“Ini adalah pukulan terfokus terbesar terhadap Hizbullah sejak operasi besar sebelumnya,” katanya.

Meski Israel mengklaim telah mengambil langkah untuk meminimalkan korban sipil, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Baca Juga: Liga Arab Desak AS Paksa Israel Hentikan Serangan Besar ke Lebanon

Mengutip Al-Jazeera, ledakan besar terdengar di berbagai titik kota, memicu kepanikan massal.

Warga berlarian di jalan, banyak yang meninggalkan kendaraan mereka untuk mencari perlindungan.

Tim Palang Merah Lebanon mengerahkan lebih dari 100 ambulans untuk mengevakuasi korban.

Kelompok Hizbullah mengecam serangan tersebut sebagai serangan langsung terhadap kawasan sipil, termasuk Beirut, Sidon, dan wilayah selatan lainnya.

Terkait hal tersebut, ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menyebut serangan itu sebagai 'kejahatan perang yang nyata'.

Baca Juga: Membabi Buta! Israel Serbu Lebanon Besar-besaran, 254 Orang Tewas

Sementara itu, Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert, mendesak penghentian segera permusuhan.

“Tidak ada pihak yang bisa menang lewat serangan. Ini saatnya menghentikan konflik dan memulai dialog langsung,” ujarnya.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran.

Mediator Pakistan bahkan menyebut kesepakatan itu mencakup Lebanon. Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah lebih dulu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.

“Kami akan terus menyerang Hizbullah,” kata Netanyahu, seraya menegaskan Israel siap melanjutkan perang kapan saja.

Baca Juga: Kemlu Italia Panggil Kedubes Israel soal Kendaraan UNIFIL Tertembak di Lebanon

Iran: Gencatan Senjata Sudah Dilanggar

Reaksi keras juga datang dari Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut kesepakatan gencatan senjata sudah dilanggar bahkan sebelum negosiasi dimulai.

“Dasar negosiasi yang disebut ‘layak’ itu kini jelas telah dilanggar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat kembali terbukti.

Terkait hal tersebut, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyebut serangan tersebut menargetkan warga sipil tak berdaya dan menunjukkan pengabaian terhadap hukum internasional.

Sejak konflik meningkat pada awal Maret, lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas di Lebanon, dengan lebih dari 1,2 juta warga mengungsi.

Baca Juga: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Israel ke Lebanon di Tengah Gencatan Senjata

Serangan terbaru ini memperlihatkan rapuhnya upaya diplomasi yang tengah berlangsung.

Gencatan senjata antara AS dan Iran belum mampu menghentikan konflik yang kini telah melebar ke berbagai front.

Alih-alih mereda, situasi justru semakin kompleks dan berbahaya. Dua pekan yang diharapkan menjadi jalan menuju perdamaian kini berubah menjadi periode penuh ketidakpastian, di mana satu serangan saja bisa memicu perang yang lebih luas di kawasan.

 

EDITOR: Bayu Putra