← Beranda
Trump Ancam 'Hancurkan Iran dalam Semalam', Ketegangan Memuncak Jelang Deadline AS
Rian Alfianto• Rabu, 8 April 2026 | 01.10 WIB
Trump ancam Iran bisa dihancurkan dalam semalam jika negosiasi gagal. (CNN)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap Iran dengan menyebut negara tersebut bisa 'dilenyapkan dalam satu malam' jika negosiasi yang sedang berlangsung gagal mencapai kesepakatan.

Dalam konferensi pers pada Senin (6/4) malam, Trump menyampaikan peringatan tajam di tengah meningkatnya ketegangan menjelang tenggat penting yang ditetapkan Washington.

“Seluruh negara itu bisa dihabisi dalam satu malam, dan malam itu mungkin saja besok malam,” ujar Trump dalam ancaman terbarunya.

Baca Juga: 8 Hal yang Dilakukan Orang 'Malas' yang Diam-Diam Membuat Mereka Lebih Efisien Menurut Psikologi

Ancaman tersebut diperkuat oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang mengindikasikan eskalasi militer semakin besar.

“Hari ini akan menjadi volume serangan terbesar sejak hari pertama. Besok bahkan lebih besar dari hari ini,” katanya.

Peringatan ini muncul menjelang berakhirnya tenggat AS pada Selasa malam, di mana Washington menuntut Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur vital Iran jika tidak ada kesepakatan.

Di sisi lain, Trump mengungkap operasi penyelamatan dramatis terhadap pilot militer AS yang ditembak jatuh oleh pasukan Iran. Menurutnya, pilot tersebut mengalami pendarahan hebat namun berhasil melintasi medan pegunungan dan menghubungi pasukan AS.

Baca Juga: Alasan Kepala BNN Suyudi Usul Vape Dilarang dalam RUU Narkotika dan Psikotropika

Operasi penyelamatan itu melibatkan 155 pesawat, termasuk empat pembom, 64 jet tempur, 48 pesawat tanker, dan 13 pesawat evakuasi. Trump juga menyebut adanya strategi pengalihan untuk mengecoh pasukan Iran.

Tak hanya itu, Trump turut mengancam akan memenjarakan pihak media yang membocorkan detail operasi tersebut.

“Kami akan menemukan pelakunya. Ini soal keamanan nasional. Orang yang menulis berita itu akan masuk penjara jika tidak mengungkap sumbernya,” tegasnya, seraya menyebut pembocor sebagai 'orang sakit'.

Sementara itu, Iran menolak proposal gencatan senjata selama 45 hari dan justru menuntut penghentian perang secara permanen.

Menurut laporan kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), Teheran menyampaikan sikapnya kepada AS melalui Pakistan sebagai mediator utama. Pesan tersebut mencakup 10 poin, termasuk rekonstruksi dan pencabutan sanksi.

“Kami hanya menerima akhir perang dengan jaminan tidak akan diserang lagi,” ujar Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, kepada The Associated Press. Ia menegaskan Iran tidak lagi mempercayai pemerintah AS setelah serangan sebelumnya terjadi di tengah proses negosiasi.

Baca Juga: Jika Seseorang Menganggap Anda Lebih dari Sekadar Teman, Mereka Akan Menunjukkan 7 Perilaku Halus Ini Menurut Psikologi

Sebelumnya, Trump menyebut proposal terbaru Iran sebagai 'langkah yang sangat signifikan', namun menilai masih 'belum cukup'.

Di lapangan, konflik terus memanas. Israel dan Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke Iran pada Senin, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 25 orang, meski angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Salah satu serangan menghantam gedung teknologi informasi di Sharif University of Technology di Teheran, yang disebut memiliki kaitan dengan program militer Iran.

Baca Juga: Survei Indikator: 85,3 Persen Pemudik Puas Penyelenggaraan Mudik Lebaran 2026, Dianggap Lebih Baik Dari Tahun Lalu

Israel juga mengklaim menyerang fasilitas petrokimia utama di ladang gas South Pars, cadangan gas terbesar di dunia, serta menewaskan dua komandan Garda Revolusi, termasuk kepala intelijennya.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel dan negara-negara Arab Teluk.

Data terbaru menunjukkan lebih dari 5.200 orang tewas di kawasan Timur Tengah sejak perang pecah pada 28 Februari. Angka tersebut mencakup korban di Iran, Lebanon, Israel, Irak, hingga wilayah Teluk, meski seluruhnya belum dapat diverifikasi secara independen.

 

 

Ketegangan kini mencapai titik kritis, dengan ancaman eskalasi besar-besaran jika negosiasi gagal sebelum tenggat yang ditentukan AS.

EDITOR: Bintang Pradewo