JawaPos.com - Pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, soal rencana penarikan pasukan dari Iran memicu perhatian global. Trump menyebut operasi militer AS di Iran akan segera berakhir dalam waktu dekat, bahkan dalam hitungan minggu setelah mengklaim telah menang atas Iran.
Dalam pernyataannya pada Selasa (31/3), Trump mengatakan bahwa pasukan AS akan mengakhiri operasi 'sangat segera', dengan estimasi waktu sekitar dua hingga tiga pekan. Pernyataan ini disampaikan di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan, sekaligus kampanye udara yang belum sepenuhnya dihentikan.
“Yang harus saya lakukan hanyalah meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya,” kata Trump. Ia menambahkan, “Kami sedang menyelesaikan tugas, dan mungkin dalam dua minggu, atau beberapa hari lebih lama.”
Gedung Putih juga mengumumkan Trump akan menyampaikan pidato resmi kepada publik untuk memberikan pembaruan penting terkait situasi Iran.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan operasi gabungan melawan Iran telah 'mengubah wajah Timur Tengah'. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan Israel bahwa tekanan militer terhadap Teheran telah membuahkan hasil signifikan.
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, membuka peluang berakhirnya konflik. Ia menyebut Iran memiliki 'kemauan yang diperlukan' untuk mengakhiri perang, asalkan ada jaminan bahwa konflik tidak akan kembali terjadi.
Namun, Trump menegaskan bahwa keputusan penarikan pasukan tidak bergantung pada tercapainya kesepakatan dengan Iran. Menurutnya, tujuan utama adalah memastikan Iran tidak lagi mampu mengembangkan senjata nuklir.
“Apakah ada kesepakatan atau tidak, itu tidak relevan,” ujar Trump kepada wartawan di Oval Office.
Ketegangan Energi dan Selat Hormuz
Konflik ini juga berdampak besar pada pasokan energi global. Iran disebut telah menutup jalur vital Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak, memicu lonjakan harga bahan bakar dunia.
Trump bahkan secara terbuka meminta negara-negara lain untuk mengamankan pasokan energinya sendiri.
“Kalau Perancis atau negara lain ingin minyak atau gas, mereka bisa ke Selat Hormuz dan mengurusnya sendiri,” kata Trump. Ia juga menegaskan AS tidak lagi akan terlibat dalam pengamanan jalur tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis pesan serupa kepada negara-negara yang mengalami krisis energi: “Pergilah ambil minyak kalian sendiri.”
Meski demikian, ketegangan tetap tinggi meski ada sinyal diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa komunikasi dengan utusan AS masih berlangsung, meski ia menegaskan hal itu bukan berarti negosiasi resmi.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut beberapa hari ke depan akan menjadi fase krusial.
“Hari-hari mendatang akan sangat menentukan. Iran memahami itu,” ujarnya, seraya mengungkapkan dirinya baru saja mengunjungi pasukan AS di wilayah operasi.
Baca Juga: Masih Ditutup Iran, Donald Trump Klaim AS Mulai Kendalikan Selat Hormuz
Sebagai pengingat, konflik yang dimulai pada 28 Februari ini dipicu oleh operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sejak itu, serangan balasan dari Iran meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah, meningkatkan risiko eskalasi regional.
Dengan rencana penarikan pasukan AS yang kini di depan mata, dunia menanti apakah langkah ini akan meredakan konflik atau justru membuka babak baru ketegangan di kawasan yang sudah lama bergolak tersebut.