← Beranda
Iran Ancam Targetkan Perusahaan Raksasa Teknologi AS jika Pembunuhan Pemimpin Tinggi Iran Terus Berlanjut
Mellyna Putri Diniar• Rabu, 1 April 2026 | 17.29 WIB
Seorang anggota pasukan keamanan Iran berjaga di dekat spanduk penghormatan untuk pemimpin tertinggi Iran yang tewas, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, 31 Maret 2026 (CNA)

JawaPos.com - Ketegangan geopolitik antara Iran dan blok Amerika Serikat–Israel kembali meningkat tajam setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman terbuka terhadap perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat. 

Dalam pernyataan resmi pada Selasa (31/3), IRGC memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut akan menjadi target "tindakan balasan" apabila pembunuhan terhadap pejabat tinggi Iran terus berlanjut.

Pernyataan ini secara eksplisit menyebut sejumlah raksasa teknologi global, termasuk Apple, Google, dan Meta, sebagai pihak yang dianggap terlibat dalam dugaan operasi pembunuhan terarah terhadap elite kepemimpinan Iran. Ancaman ini menandai eskalasi baru, di mana konflik tidak lagi terbatas pada ranah militer konvensional, melainkan merambah sektor teknologi sipil global.

Baca Juga: Paus Leo Desak Presiden AS Donald Trump Cari Jalan Keluar untuk Akhiri Perang Iran yang Kian Meluas

Dilansir dari CNA, Rabu (1/4/2026), IRGC menyatakan bahwa mulai pukul 20.00 waktu Teheran pada Rabu (1/4), perusahaan-perusahaan tersebut "harus mengantisipasi penghancuran unit-unit terkait mereka sebagai balasan atas setiap pembunuhan di Iran."

Dalam pernyataan itu juga ditegaskan, "Kami menyarankan para karyawan institusi ini untuk segera meninggalkan tempat kerja mereka demi menyelamatkan nyawa."

Lebih lanjut, IRGC menuduh pemerintah Amerika Serikat bersama perusahaan teknologi besar telah mengabaikan peringatan berulang dari Teheran. Dalam narasi yang disampaikan, perusahaan-perusahaan tersebut disebut sebagai "elemen utama dalam merancang dan melacak target pembunuhan," sebuah tuduhan serius yang belum mendapatkan tanggapan resmi dari pihak perusahaan terkait.

Selain Apple, Google, dan Meta, daftar yang dirilis IRGC mencakup total 18 perusahaan, termasuk Intel, Microsoft, Oracle, Tesla, Palantir, serta produsen chip Nvidia. Pernyataan itu menegaskan, "Perusahaan yang secara aktif berpartisipasi dalam desain teroris akan menghadapi tindakan balasan untuk setiap pembunuhan yang ditargetkan."

Namun demikian, IRGC tidak merinci lokasi atau bentuk serangan yang dimaksud. Meski begitu, mereka memberikan peringatan tambahan kepada masyarakat sipil di sekitar fasilitas perusahaan-perusahaan tersebut.

"Penduduk di sekitar perusahaan-perusahaan ini di seluruh negara kawasan juga disarankan untuk meninggalkan lokasi mereka dalam radius satu kilometer dan berpindah ke tempat yang aman," demikian bunyi pernyataan itu.

Ancaman ini muncul di tengah dinamika konflik yang semakin kompleks antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan tengah menjalankan jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik, namun pada saat yang sama juga mengancam akan meningkatkan kampanye militer terhadap Iran bersama Israel.

Konflik tersebut telah menimbulkan dampak signifikan di lapangan. Pada awal Maret, Amazon melaporkan bahwa dua pusat data mereka di Uni Emirat Arab terkena serangan drone secara langsung, sementara satu fasilitas lain di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan di sekitarnya. Insiden ini memperkuat kekhawatiran bahwa infrastruktur teknologi kini menjadi bagian dari target strategis.

Di sisi lain, Iran juga mengalami kerugian besar dalam struktur kepemimpinannya. Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan panglima IRGC Mohammad Pakpour dilaporkan tewas pada hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari. Selain itu, tokoh penting lainnya seperti Ali Larijani juga termasuk di antara korban, bersama sejumlah figur berpengaruh lainnya.

Amerika Serikat dan Israel mengklaim bahwa serangan terhadap jajaran pimpinan Iran telah memberikan pukulan signifikan terhadap stabilitas internal negara. Namun, sejumlah analis internasional menilai bahwa Iran masih menunjukkan daya tahan yang kuat dan kemampuan untuk memulihkan diri dari kerugian tersebut.

Sebagai respons terhadap serangan terhadap infrastrukturnya, militer Iran pada hari yang sama juga mengumumkan operasi balasan menggunakan drone. Target yang disebut meliputi pusat komunikasi, telekomunikasi, dan fasilitas industri di Israel, termasuk fasilitas milik Siemens di dekat bandara internasional utama serta infrastruktur AT&T di kota Haifa.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak Israel terkait keberhasilan serangan. Situasi ini memperlihatkan adanya perang informasi yang berjalan paralel dengan konflik militer di lapangan.

Secara keseluruhan, eskalasi ini menandai perubahan signifikan dalam karakter konflik modern, di mana perusahaan teknologi global tidak lagi berada di luar medan konflik, melainkan menjadi bagian dari target strategis. Dengan ancaman yang kini meluas ke sektor sipil dan infrastruktur digital, risiko terhadap stabilitas global pun semakin meningkat.

Baca Juga: Iran Klaim Tak Akan Kekurangan Bahan Bakar selama Perang Melawan AS-Israel

EDITOR: Candra Mega Sari