← Beranda
Trump: AS Tak Butuh Selat Hormuz, Singgung Negara yang Bergantung pada Jalur Minyak Dunia Malah ‘Diam Saja’
Mellyna Putri DiniarJumat, 27 Maret 2026 | 17.25 WIB
Presiden AS Donald Trump bertemu Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington DC. Foto: (Al Jazeera)

JawaPos.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa negaranya tidak bergantung pada Selat Hormuz, sembari menyindir negara-negara yang masih mengandalkan jalur vital minyak dunia tersebut namun dinilai tidak mengambil tindakan di tengah konflik dengan Iran. 

Pernyataan trump itu mempertegas arah kebijakan energi Washington sekaligus membuka ketegangan baru dengan sekutu global.

Dalam pernyataan di Ruang Oval saat bertemu Perdana Menteri Irlandia Michael Martin, Trump menyampaikan sikap tegas terkait pengamanan jalur pelayaran strategis tersebut. “Kami tidak membutuhkan terlalu banyak bantuan, bahkan kami tidak membutuhkan bantuan sama sekali,” ujarnya kepada wartawan.

Baca Juga: Jubir Gedung Putih Sebut Donald Trump akan Bersua Xi Jinping di Beijing pada Mei 2026

Melansir Al Jazeera, Jumat (27/3/2026), pernyataan itu muncul pada hari ke-27 konflik AS-Israel dengan Iran. Trump menunjukkan sikap keras terhadap Teheran dengan mengatakan Washington masih memiliki “banyak target” yang akan disasar sebelum perang berakhir. Ia juga menegaskan, “Kami tidak membutuhkan Selat Hormuz, dan yang mengganggu saya adalah negara-negara yang membutuhkannya justru tidak melakukan apa pun.”

Trump juga menekankan bahwa produksi minyak domestik Amerika Serikat kini melampaui Arab Saudi dan Rusia. Pernyataan ini menjadi dasar klaimnya bahwa ketergantungan AS terhadap jalur distribusi minyak global, termasuk Selat Hormuz, semakin berkurang secara signifikan.

Namun demikian, sikap tersebut berbanding terbalik dengan seruan sebelumnya dari Washington yang meminta pembentukan koalisi internasional guna menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur sempit antara Iran dan Semenanjung Arab ini diketahui dilalui sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak global, menjadikannya titik krusial dalam rantai pasok energi dunia.

Lebih lanjut, Trump secara terbuka mengkritik sekutu-sekutu Barat yang menolak bergabung dalam koalisi tersebut, termasuk Inggris, Prancis, dan aliansi NATO. “Kami telah membantu mereka begitu banyak—kami memiliki ribuan tentara di berbagai negara di seluruh dunia—tetapi mereka tidak ingin membantu kami. Itu luar biasa,” katanya.

Selain itu, ia juga menilai konflik ini sejatinya telah berlangsung lama. “Perang ini sudah berlangsung lama sejak awal,” ujar Trump, seraya menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak benar-benar membutuhkan dukungan tambahan dari pihak luar.

Di sisi lain, klaim Trump mengenai adanya “banyak negara” yang akan bergabung dalam koalisi tersebut masih belum terverifikasi secara publik. Ia hanya menyebut negara-negara itu “sedang dalam perjalanan”, tanpa menyebutkan negara mana yang dimaksud.

Sebagai gantinya, Trump menyoroti dukungan dari negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Bahrain. “Qatar sangat baik. UEA luar biasa. Arab Saudi sangat hebat. Bahrain juga sangat baik,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa Israel merupakan mitra yang “sangat kuat” dalam operasi tersebut.

Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa negara-negara tersebut benar-benar terlibat dalam koalisi militer untuk membuka Selat Hormuz. Sebagian besar negara Teluk justru memilih jalur diplomasi untuk menjaga stabilitas kawasan.

Sementara itu, penolakan tegas datang dari Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan negaranya tidak akan ikut serta. “Kami bukan pihak yang terlibat langsung dalam konflik ini. Karena itu, Prancis tidak akan ikut serta dalam operasi untuk membuka atau membebaskan Selat Hormuz dalam konteks saat ini,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga meragukan keterlibatan negaranya. Negara-negara lain seperti Jerman, Italia, Spanyol, Australia, Polandia, Jepang, dan Korea Selatan juga memilih menahan diri atau masih mengkaji kemungkinan partisipasi.

Kritik paling tajam Trump justru diarahkan kepada NATO. Ia mempertanyakan komitmen aliansi tersebut terhadap Amerika Serikat. “Saya pikir NATO membuat kesalahan yang sangat bodoh,” katanya. Ia menambahkan, “Saya sudah lama bertanya-tanya apakah NATO akan benar-benar ada untuk kita. Ini adalah ujian besar, karena kita tidak membutuhkan mereka, tetapi seharusnya mereka ada.”

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump juga memperkirakan Iran membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk pulih dari dampak konflik. Meski demikian, ia memberi sinyal bahwa keterlibatan militer AS tidak akan berlangsung tanpa batas. “Kami belum siap untuk pergi sekarang, tetapi kami akan pergi dalam waktu dekat,” ujarnya.

Dengan demikian, pernyataan Trump tidak hanya mencerminkan klaim kemandirian energi Amerika Serikat, tetapi juga memperlihatkan retaknya koordinasi global dalam menghadapi krisis strategis. Ketika Washington menegaskan tidak membutuhkan Selat Hormuz, dunia justru dihadapkan pada realitas meningkatnya fragmentasi dalam menjaga stabilitas jalur energi internasional.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho