JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, memutuskan menunda rencana pertemuannya dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, seiring eskalasi perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang kini memasuki pekan ketiga.
Trump menyebut keputusan ini diambil karena fokus pemerintahannya saat ini tersedot penuh oleh konflik yang terus memanas, terutama dampaknya terhadap jalur perdagangan global.
“Kami menjadwalkan ulang pertemuan itu. Kami tetap berkoordinasi dengan Tiongkok, dan mereka tidak keberatan,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
“Karena perang ini, saya harus berada di sini.”
Baca Juga: Jay Idzes Bangga Sassuolo Bisa Raih Satu Poin dari Juventus
Awalnya, Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke Beijing pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Namun kini, rencana tersebut diundur sekitar lima pekan, atau diperkirakan berlangsung pada akhir April.
Melansir Al-Jazeera, penundaan ini tak lepas dari situasi di Selat Hormuz yang masih tertutup akibat konflik. Jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan global dan distribusi minyak dunia.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat pasokan energi terganggu dan harga minyak dunia berfluktuasi tajam. Trump bahkan secara terbuka berharap Tiongkok ikut berperan menekan Iran agar membuka kembali jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Sisi Gelap Legenda Chelsea: Dua Kasus Besar yang Pernah Menjerat John Terry
“Tiongkok termasuk negara yang seharusnya mendorong Tehran membuka kembali Selat Hormuz,” kata Trump dalam wawancara dengan Financial Times.
Pemerintah Tiongkok memastikan komunikasi dengan AS tetap berjalan terkait penjadwalan ulang ini. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut Beijing memahami alasan di balik keputusan Trump.
“Tiongkok memahami alasan Presiden melakukan penundaan,” ujarnya.
“Kami sedang mengatur jadwal baru secepat mungkin.”
Pertemuan Trump dan Xi sejatinya akan membahas berbagai isu krusial, mulai dari tarif dan perang dagang, lembatasan ekspor mineral tanah jarang, hubungan AS–Taiwan dan isu ekspor fentanyl.
Hubungan kedua negara sempat mencair setelah kesepakatan gencatan perang dagang pada Oktober lalu, usai pertemuan di Korea Selatan. Trump bahkan menilai relasi dengan Tiongkok kini jauh lebih baik.
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Tiongkok. Sangat berbeda dari masa lalu,” katanya.
Baca Juga: Daftar 21 Negara Lolos Piala Asia 2027: ASEAN Kirim Tiga Wakil, Vietnam Diuntungkan Sanksi Malaysia
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai penundaan ini mencerminkan tekanan geopolitik yang dihadapi Trump.
Analis dari Doha Institute, Muhanad Seloom, menyebut ada pandangan bahwa penundaan terjadi karena Tiongkok enggan terlibat dalam koalisi militer AS di Selat Hormuz.
Sementara itu, peneliti International Crisis Group, Ali Wyne, menilai strategi Trump bisa berbalik merugikan.
Baca Juga: Pengalihan Tahanan Eks Meng Yaqut Cholil Qoumas Jadi Tahanan Rumah Dikecam, KPK Dituntut Transparan
“Awalnya operasi militer ini diharapkan memperkuat posisi negosiasi Trump terhadap Xi. Namun justru berbalik, karena kini ia membutuhkan bantuan Tiongkok untuk membuka Selat Hormuz,” ujarnya.
Penundaan pertemuan Trump dan Xi menjadi bukti bahwa konflik di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga menggeser agenda diplomasi dua kekuatan besar dunia.