← Beranda
Iran Tutup Selat Hormuz Usai Diserang AS-Israel, Harga Minyak Dunia Terancam Naik
Rian AlfiantoMinggu, 1 Maret 2026 | 16.19 WIB
Cuplikan gambar ini diambil dari siaran televisi pemerintah Iran pada 28 Februari 2026 (Al Jazeera)

Angkatan Laut Iran pada Sabtu (28/2) menyatakan seluruh kapal dilarang melintas hingga pemberitahuan lebih lanjut. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan keputusan tersebut merupakan respons langsung atas apa yang mereka sebut sebagai 'serangan AS dan Israel' terhadap wilayah Iran dalam beberapa jam terakhir.

Media setempat mengutip pejabat senior IRGC yang menyatakan bahwa penutupan selat telah resmi berlaku. Keputusan ini dinilai memiliki implikasi ekonomi dan keamanan yang luas, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi pasar global.

Baca Juga: Rosenior Bela Wesley Fofana usai Jadi Korban Rasisme: Dia Pria Tangguh!

Laporan Reuters menyebut kapal-kapal yang melintas di sekitar perairan tersebut menerima pesan radio berulang dari pihak Iran melalui kanal frekuensi tinggi. Pesan itu memperingatkan bahwa tidak ada kapal tanker yang diizinkan melintasi selat tersebut.

Jalur Vital 20 Persen Minyak Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan sempit ini setiap hari.

Selat yang terletak di Samudra Hindia tersebut menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman ke Laut Arab, dengan Iran berada di satu sisi dan Oman di sisi lainnya.

Jalur ini menjadi nadi utama pengiriman minyak mentah dari Irak, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Diperkirakan 15–20 persen minyak dunia, kondensat, dan produk petroleum, serta lebih dari 30 persen gas alam cair (LNG), melintasi selat tersebut.

Sebanyak 82 persen volume minyak yang dikirim melalui jalur ini menuju Asia, sementara sisanya dikapalkan ke Eropa. Sekitar 24 persen impor LNG China juga melewati Selat Hormuz.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Klaim Tingkat Kerukunan Umat 2025 Tertinggi Sepanjang Sejarah

Dalam kondisi normal, 200 hingga 300 kapal melintas setiap hari, bahkan pada jam sibuk, kapal bisa lewat setiap enam menit.

Dengan volume sebesar itu, penutupan total akan memicu guncangan besar di pasar energi. Para analis memperingatkan harga minyak dapat melonjak tajam jika gangguan berlangsung lama.

Harga Minyak Bisa Melonjak Drastis

Setelah serangan Israel terhadap Iran, harga minyak mentah Brent sudah melonjak 13 persen menjadi sekitar USD 78,5 per barel. Saat ini harga masih berada di kisaran USD 80 per barel.

Namun, Iran memperkirakan penutupan penuh Selat Hormuz dapat mendorong harga hingga USD 250 per barel. Proyeksi lebih konservatif dari JPMorgan memperingatkan potensi kenaikan ke level USD 130 per barel, meski tidak menutup kemungkinan harga bergerak lebih tinggi tergantung durasi dan eskalasi konflik.

Kenaikan tajam harga minyak akan berdampak langsung pada inflasi global, biaya transportasi, harga pangan, hingga rantai pasok internasional. Karena minyak menjadi bahan bakar utama ekonomi dunia, lonjakan harga akan merambat ke berbagai sektor.

Baca Juga: Marcos Reina Senang Gelandang Pemutus Serangan Persik Kediri Kembali Main Lawan Persis Solo

Sebelum keputusan penutupan selat diumumkan, Iran telah melancarkan serangan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

IRGC mengklaim seluruh target militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah telah dihantam 'pukulan kuat rudal Iran'.

“Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti hingga musuh dikalahkan secara tegas,” demikian pernyataan IRGC. Mereka juga menyebut seluruh aset Amerika Serikat di kawasan kini sebagai target sah.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa negaranya memiliki hak untuk membela diri. Ia juga menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban kemanusiaan akibat eskalasi militer.

EDITOR: Bintang Pradewo