← Beranda
Iran Serang Aset AS di Teluk, Rudal Hantam Bahrain hingga UEA, Konflik Terancam Meluas
Rian AlfiantoMinggu, 1 Maret 2026 | 08.50 WIB
Asap tebal di Manama, Bahrain, setelah basis pertahanan AS diserang rudal Iran. (Shannon Renfroe/Stars and Stripes)

JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Israel dan Amerika Serikat (AS) menyerang Iran pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah aset Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab.

Aksi ini disebut sebagai balasan atas serangan besar yang sebelumnya dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, memicu kekhawatiran akan pecahnya perang berkepanjangan di kawasan strategis tersebut.

Pemerintah Iran mengkonfirmasi bahwa pihaknya menargetkan sejumlah titik di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Keempat negara tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Kantor berita Fars melaporkan bahwa serangan menyasar fasilitas yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan militer Washington.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim seluruh target militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah telah dihantam. IRGC menyebut serangan tersebut sebagai 'pukulan kuat rudal Iran'.

Baca Juga: Tokoh Oposisi Serukan Perlawanan untuk Rebut Pemerintahan Republik Islam Iran

“Operasi ini akan terus berlanjut tanpa henti hingga musuh dikalahkan secara tegas,” demikian pernyataan IRGC. Mereka juga menegaskan bahwa seluruh aset Amerika Serikat di kawasan kini dianggap sebagai target sah oleh militer Iran.

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa negaranya memiliki hak untuk membela diri. Ia juga menyampaikan penyesalan atas jatuhnya korban kemanusiaan akibat eskalasi militer yang sedang berlangsung.

Dampak serangan mulai terasa di sejumlah negara Teluk. Di Abu Dhabi, ibu kota UEA, sedikitnya satu orang dilaporkan tewas setelah beberapa rudal yang diluncurkan dari Iran berhasil dicegat sistem pertahanan udara.

Kantor berita resmi UEA menyebut sebagian besar proyektil berhasil diintersepsi sebelum mencapai target.

Bahrain menyatakan bahwa serangan rudal menargetkan markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang bermarkas di negara tersebut. Pemerintah Bahrain mengecam insiden itu sebagai 'serangan pengkhianatan' dan
'pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan keamanan kerajaan'.

Di Kuwait, Kementerian Pertahanan melaporkan bahwa Pangkalan Udara Ali al-Salem menjadi sasaran sejumlah rudal balistik. Seluruh rudal disebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Kuwait.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan telah menggagalkan beberapa serangan yang mengarah ke wilayahnya. “Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa ancaman ditangani segera setelah terdeteksi, sesuai dengan rencana keamanan yang telah disetujui sebelumnya, dan seluruh rudal berhasil dicegat sebelum mencapai wilayah Qatar,” demikian pernyataan resmi otoritas setempat.

Sebagai langkah antisipasi, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab untuk sementara menutup wilayah udara masing-masing. Keempat negara tersebut juga secara terbuka mengecam serangan Iran terhadap wilayah mereka.

Laporan dari koresponden Al Jazeera menyebut Bandara Erbil di wilayah Kurdistan, Irak utara, turut menjadi sasaran dua kali serangan pada hari yang sama. Sebuah drone dilaporkan mencoba menyerang Bandara Internasional Erbil, namun berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara.

Di Suriah, media pemerintah melaporkan ledakan rudal di kawasan industri Suwayda yang menewaskan empat orang dan melukai sejumlah lainnya. Sumber rudal tidak dijelaskan dalam laporan tersebut.

Koresponden Al Jazeera, Zein Basravi, melaporkan dari Doha bahwa satu-satunya negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang belum menjadi sasaran serangan Iran sejauh ini adalah Oman.

Negara tersebut selama bertahun-tahun berperan sebagai mediator antara Iran dan negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat. Oman sebelumnya menjadi tuan rumah pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS, baik di Muscat maupun Jenewa.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, bahkan sempat menyampaikan optimisme bahwa perdamaian 'sudah dalam jangkauan' setelah Iran dilaporkan sepakat untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya.

Badr bin Hamad Albusaidi menyebut perkembangan itu sebagai terobosan besar. Namun hanya beberapa jam setelah pernyataan tersebut, serangan dari Israel dan Amerika Serikat terjadi, membuat proses diplomasi yang tengah berjalan terhenti.

 

EDITOR: Edy Pramana